Kiss The Rain [MyungStal Fic]


Title : Kiss The Rain

Casts : Kim Myungsoo (Infinite’s L) & Jung Soojung (Fx’s Krystal)

Genre : AU, Drama, Romance

Rating : PG-15

Summary : Kamu datang seperti hujan yang deras. Menyerangku dan membasahi seluruh tubuhku, aku tak bisa sembunyi, tak bisa berlari. Aku membencimu..

Warning : Don’t like don’t read~

—————————–
 

“Appa akan menikah lagi, Myungsoo-ah, kamu akan memiliki Umma dan yeodongsaeng.”

Aku ingat sekali makan malamku dan Appa hari itu. Usiaku sepuluh tahun saat itu. empat tahun setelah kepergian Umma untuk selama-lamanya.

Aku hanya mengangguk setelah terdiam beberapa saat mendengar kalimat Appa yang bagaikan petir di siang bolong. Aku akan memiliki orang-orang asing di dalam rumahku, itulah yang ada di pikiranku yang berumur sepuluh tahun saat itu.

“Mereka akan menjadi keluarga barumu, kamu harus memperlakukan mereka dengan baik. Ingat itu ya?”

Tidak.

Tapi aku tetap mengangguk, masih tidak berkata sepatah kata pun. Malam itu, hujan turun sangat deras.

——

Aku sangat benci hari hujan. Siang ketika aku mendapat kabar tentang kematian Umma, hari itu sedang hujan deras. Pertama kali aku bertemu dengan ‘keluarga baru’ ku malam itu pun hujan. Ketika Sekolah Dasar pun, aku gagal menjadi pemain inti dalam tim sepak bola sekolahku karena aku terpeleset, menggagalkan tendanganku saat pertandingan latihan dengan SD tetangga. Aku terpeleset, karena lapangan mendadak licin ketika hujan tiba-tiba turun. Pokoknya aku sangat benci hujan. Benci sekali.
Karena itu, aku membencimu.
——

Tok! Tok! Tok!

“Oppa?”

Myungsoo bergerak sedikit dalam tidurnya mendengar suara ketukan pintu dan suara lembut itu memanggilnya. Tetapi dia tetap memaksa matanya untuk terus terpejam.

Tok! Tok! Tok!

“Oppa? Myungsoo oppa! Buka pintunya! Cepat bangun atau kita akan terlambat! Yah!”

Myungsoo mengambil bantal disampingnya lalu menggunakanya untuk menutupi kepalanya, berharap dapat mengurangi keberisikan dari luar kamarnya.

“Yah! Oppaya! OPPA! OPPA BANGUN! OPPAAAAAAAAA!!!”

Sial.

“IYA IYA AKU BANGUN!”

Terdengar suara kikikan dari luar kamar sesaat setelah teriakan Myungsoo barusan, lalu sebuah ketukan di pintu. “Bersiap-siaplah, aku menunggumu untuk sarapan di bawah. Cepat ya Oppa!” seru suara lembut itu lagi, sebelum terdengar deru langkah kaki menuruni tangga.

Myungsoo menggelengkan kepalanya, tidak punya pilihan lain selain menuruti bocah bawel itu. Dia pun segera menuju ke kamar mandi untuk mandi setelah itu bersiap-siap untuk ke sekolah.

“Akirnya kamu turun juga, Oppa. Lelaki macam apa yang menghabiskan 30 menit untuk mandi? Seperti perempuan saja betah berlama-lama di kamar mandi!”

Myungsoo mendelik menatap anak perempuan yang baru saja mengejeknya di depannya ini, Soojung. Sementara yang di pelototi hanya memeletkan lidahnya dengan santai ke arahnya, tidak merasa takut sedikitpun.

“Aku menyiapkan salad buah kesukaan Oppa dan toast untuk sarapan kita hari ini! Ah, ada susu vanilla kesukaan kita juga di kulkas, nanti Oppa bawalah satu untuk diminum di sekolah.” Jelas Soojung penuh semangat.

Myungsoo tersenyum penuh rasa terima kasih padanya, lalu menjawab, “Thanks, little sister.” Sambil mengedipkan sebelah matanya. Membuat Soojung memerah, malu sendiri dibuatnya.

Myungsoo dan Soojung adalah kakak beradik. Bukan kakak beradik kandung. Bukan juga kakak beradik tiri. Mereka kakak beradik karena mereka tidak punya pilihan lain selain menjadi kakak beradik. Appa Myungsoo dan Umma Soojung tadinya akan menikah, tetapi ironisnya, mereka mengalami kecelakaan ketika sedang jalan berdua dan kehilangan nyawa mereka karena kecelakaan itu. Tinggallah Myungsoo dan Soojung. Soojung tidak memiliki kerabat yang tersisa, sedangkan Myungsoo, hanya neneknyalah keluarganya yang tersisa. Tetapi ketika nenek Myungsoo meninggal dua tahun yang lalu, Myungsoo dan Soojung hanya memiliki satu sama lain. Hanya merekalah keluarga satu-satunya yang mereka miliki.

“Hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu, klubku ada latihan tambahan karena bulan depan kami akan mengikuti turnamen.” Seru Myungsoo tiba-tiba. Dia dan Soojung sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah mereka, Neul Paran High.

Soojung manggut-manggut. “Baiklah, kalau begitu boleh kan aku main ke rumah Sulli dulu sepulang sekolah? Sebentar saja, aku akan ada di rumah sebelum Oppa pulang.”

Myungsoo menggeleng. “Tidak boleh.” Jawabnya datar tanpa berpikir.

Soojung memonyongkan bibirnya. “Aah waeeee~? Aku akan bosan jika sendirian di rumah saja~” serunya mulai merajuk. Myungsoo tidak berkata apa-apa.

“Oppa~ boleh ya?” seru Soojung lagi, ditambah dengan puppy eyes mematikan keahliannya. Myungsoo mencoba untuk tidak terpengaruh dengan puppy eyes itu dan terus saja berjalan tanpa memedulikan Soojung.

Tetapi akhirnya setelah Soojung merengek sepanjang perjalanan mereka ke sekolah, ditambah dengan rengekan Sulli begitu mereka bertemu dengannya di depan gerbang Neul Paran High, Myungsoo pun akhirnya menyerah dengan mengiyakan permintaan adiknya itu. Mau bagaimana lagi, kepalanya sudah pusing mendengar suara cempreng dua setan cilik itu, ckck.

“Ingat, kamu berjanji sudah ada di rumah sebelum aku pulang. Dan jangan berbuat macam-macam. Oke?” seru Myungsoo kepada Soojung sebelum mereka berpisah karena gedung anak SMP dan anak SMA berbeda.

Soojung mengangguk lalu mengangkat tangan kanannya, memberi hormat kepada Myungsoo sambil tersenyum. “Aye aye captain!” jawabnya penuh semangat, membuat Myungsoo dan Sulli tertawa.

“Baiklah sampai ketemu nanti ya, jaga dirimu.” Ucap Myungsoo lagi lalu mengacak-acak rambut Soojung sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Soojung dan Sulli menuju ke gedung SMA.

Soojung dan Sulli tetap berdiri di tempat mereka, melihat Myungsoo berjalan pergi sampai akhirnya siluetnya tidak terlihat lagi.

Sulli lalu menyenggol lengan sahabatnya, “Sampai kapan kamu akan terus terpesona sementara pangeranmu sudah tidak terlihat lagi, huh?” serunya dengan nada menggoda. Soojung tersadar dari lamunannya, suara Sulli barusan membawanya kembali ke dunia nyata setelah sejenak dia tersesat dalam dunia khayalnya.

“Huh?” serunya bingung, tidak menangkap kata-kata Sulli barusan.

Sulli terkekeh kecil. “Sudahlah, ayo kita ke kelas!” katanya bersemangat sembari menarik Soojung menuju ke kelas mereka setengah berlari, Soojung hanya bisa pasrah ditarik-tarik seenaknya, toh ini sudah jadi rutinitas mereka setiap hari.

——

“Sudah satu jam dia bermain di tengah hujan. Yeol, bilang padanya untuk berhenti.”

“Kamu saja yang bilang padanya, aku sudah capek mencoba mengingatkannya, Hyung.”

Sunggyu menghela napas pelan, tidak tahu harus berbuat apa. Dia, Seungyeol, dan Woohyun hanya bisa diam saja melihat rekan satu tim mereka terus berlarian mengejar bola di tengah derasnya hujan.

Sudah sejak lama mereka tahu Myungsoo suka hujan, hujan deras tepatnya, atau itulah tanggapan mereka, padahal kenyataannya adalah sebaliknya. Karena Myungsoo akan terus bermain meskipun hujan deras turun membasahi seluruh lapangan tetapi dia akan berhenti dan berteduh jika gerimis datang. Aneh memang, tetapi memang begitulah kenyataannya. “Gerimis membuatku sakit dan membuat kepalaku pusing.” Itulah yang selalu dikatakannya.

Contohnya hari ini. Seharusnya mereka berlatih sampai matahari terbenam sepulang sekolah, tetapi di tengah latihan hujan turun dengan derasnya, pelatih pun tidak punya pilihan lain kecuali membatalkan dulu latihan hari itu. Tetapi tidak untuk Myungsoo. Tanpa mengendahkan teriakan pelatih juga rekan-rekan satu timnya, dia tetap berlari di lapangan. Berlari mengejar bola di tengah derasnya hujan, atau begitulah kelihatannya.

Myungsoo sebenarnya sedang berusaha berlari dari dirinya sendiri. Berlari dari perasaannya, berlari dari sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. Seseorang yang datang dalam hidupnya seperti derasnya hujan. Dia begitu membenci orang itu, sama seperti dia begitu membenci hujan. Dia sedang berusaha berlari, berusaha mencari jawaban atas perasaannya sendiri, dengan harapan dapat menemukannya di akhir hujan deras yang selalu membasahinya.

——

“Krystal! Hey!”

Soojung, atau Krystal, begitulah teman-temannya memanggilnya, tersadar dari lamunannya. “Neh?” tanyanya pada Amber, sahabatnya yang tadi memanggilnya. Dia, Amber, Victoria, dan Luna sekarang berada di rumah Sulli, di kamarnya tepatnya.

Victoria mendekatkan dirinya pada Soojung dan duduk tepat di sebelahnya. “Sejak tadi kamu terus melihat keluar jendela dan melamun… kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu, huh?” tanyanya, dari suaranya jelas sekali kalau dia khawatir.

Soojung menatap Victoria dengan wajah tanpa ekspresi, dia lalu melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan. Amber, Luna dan Sulli pun ternyata sedang manatapnya khawatir.

“Kamu selalu melamun saat hujan turun, Krystal…” terdengar suara Sulli. Krystal tersenyum kecil padanya mendengar perkataannya barusan.

Selalu melamun saat hujan turun…

Sampai seperti itukah imejku ketika hujan turun? Batin Soojung sambil terkekeh, membuat keempat sahabatnya semakin bertanya-tanya.

“Anak ini, jangan hanya tertawa! Berikan penjelasan~!” kata Amber sambil menyentil dahi Soojung, yang lalu mengerang pelan kesakitan.

“Kamu tidak perlu melakukan kekerasan begitu kan, Am…” seru Victoria, jiwa keibuannya muncul kalau suasanya mengeruh sedikit saja.

“Apa yang harus kujelaskan?” tanya Soojung tiba-tiba, membuat keempat sahabatnya kembali memperhatikannya. Seulas senyum tipis terbentuk di bibirnya.

Soojung juga bertanya-tanya. Kenapa dia selalu melamun begitu hujan turun? Jujur saja dia bukanlah seorang penganut romantisme yang gemar membaca novel-novel percintaan yang mendambakan pangeran seperti di komik dan akan terhanyut oleh suasana saat hujan datang. Eww, itu sama sekali bukan dirinya.

Mungkin sejak awal Soojung sudah tahu jawabannya. Karena jawabannya memang sudah jelas bahkan sebelum dia mulai mempertanyakan hal itu. Soojung hanya ingin menyimpan jawaban itu untuk dirinya sendiri, sampai waktunya tiba untuk membaginya dengan orang lain. Ya, mungkin begitu.

“Krys?”

Soojung tersenyum lagi pada keempat sahabatnya, lalu bangkit dari tempat duduknya. “Aku harus pulang, aku sudah berjanji untuk tiba di rumah sebelum Myungsoo oppa.” Katanya kalem, berjalan menuju ke pintu.

Sulli menghela napas lalu ikut berdiri mendekati Soojung. “Aku akan mengantarmu ke rumahmu, bahaya membiarkanmu naik bis disaat hujan deras begini. Unniedeul, kalian tunggu sebentar disini ya.” Serunya pada Soojung dan yang lain. Dia dan Soojung lalu keluar dari kamarnya.

——

“Aku pulang.”

Soojung tersenyum mendengar suara yang amat sangat dikenalnya itu. “Oppa! Akhirnya kamu pulang juga! Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita, cepat mandi setelah itu kita makan malam.” Serunya bersemangat sambil meraih tas dan jaket Myungsoo lalu meletakkannya di atas meja.

Myungsoo tersenyum dan mengangguk padanya sebelum akhirnya dia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk mandi.

Sementara itu, sambil menunggu Myungsoo selesai mandi, Soojung menyibukkan dirinya menyiapkan peralatan makan dan makanan untuk makan malam mereka. Berusaha untuk tidak memikirkan pembicaraannya dengan Sulli tadi sore ketika Sulli mengantarkannya pulang.

Flashback~

“Kapan kamu akan mengaku suka pada pangeranmu itu, huh?” Sulli tiba-tiba nyeletuk di tengah perjalanan menuju ke rumah Soojung, membuat Soojung tercengang.

“Pangeran apa, maksudmu?” tanyanya bingung.

Sulli mendecakkan lidahnya, sedikit gerah dengan kelambatan sahabatnya yang cantik ini. “Ya pangeranmu, Myungsoo oppa, siapa lagi.” Jawabnya enteng. Sementara Soojung, si lawan bicara, seperti tersambar petir mendengar kalimatnya barusan. Matanya membersar sampai sebesar buah semangka *oke ini lebay, nggak sebesar itu*.

“A-apaan sih kamu, Ssul? Myungsoo itu oppaku tahu!” balas Soojung terbata-bata, berusaha keras terlihat biasa meski jantungnya berdegup sangat kencang. Dia membuang tatapannya ke semua tempat kecuali muka Sulli lantaran gugup, tidak sanggup menatap sahabatnya yang sudah menangkap basah kegelisahannya itu.

“Kamu tidak akan pernah tahu dia punya perasaan yang sama denganmu atau tidak kalau kamu tidak mengatakan hal itu kepadanya.” Terdengar suara Sulli lagi.

“Kamu tahu, mungkin selama ini dia sedang menunggumu karena dia terlalu takut untuk mengaku terlebih dahulu.” Lanjut Sulli lagi, tetapi Soojung tetap diam.

Sulli lalu memeluk sahabatnya itu, membelai rambutnya secara perlahan, berharap dapat mengurangi keresahan dalam hati Soojung.

Lalu bagaimana denganku? Tidak bolehkah aku merasa takut juga dan menunggunya…? tanya Soojung dalam hati, entah pada siapa.

Flashback end~

“Soojung-ah?”

Soojung tersadar dari lamunannya dengan wajah laki-laki yang selalu menghantui mimpinya tepat di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Myungsoo.

“Kupanggil sejak tadi malah asyik melamun, ckck. Apa sih yang sedang kamu pikirkan?” keluh Myungsoo sambil menyentil dahi adiknya itu lembut. Tiba-tiba saja wajah Soojung terasa panas. Kenapa tiba-tiba begini sih? Padahal sebelum-sebelumnya dia biasa saja jika oppanya ini menyentil dahinya, tapi kenapa sekarang berbeda? Batinnya kalut.

“Kenapa masih diam disitu, ayo kita mulai makan atau masakanmu terlanjur dingin.” Seru Myungsoo lagi, membuat Soojung langsung buru-buru menduduki kursinya dan berdoa lalu mulai makan malam, meskipun dengan hati yang dag dig dug tidak keruan.

Myungsoo dan Soojung makan dalam ketenangan yang biasa menyelimuti suasana makan mereka. Bukan keheningan yang tidak nyaman, justru sebaliknya. Keheningan di antara mereka ini, meskipun tanpa suara, adalah keheningan yang mereka butuhkan. Karena keduanya sedang sibuk membenahi perasaan mereka masing-masing.

Tetapi di tengah-tengah kekalutannya itu, Soojung mendengar sesuatu. *sesuatu disini bukannya lagu Syahrini ya.*

Uhuk, uhuk. Uhuk, uhuk.

Soojung terkejut mendengar suara itu, Myungso… batuk?

“Oppa! Kamu sakit??!” serunya khawatir, panik, dan kesal bercampur menjadi satu. Disentuhnya kening Myungsoo pelan-pelan, dan betapa lemas dirinya merasakan dahi Myungsoo begitu panas seperti terbakar. Orang ini… bagaimana mungkin dia terlihat biasa saja dengan suhu tubuh seperti ini, sih! Batinnya kesal setengah mati.

“Tidak usah berlebihan, aku hanya sedikit pusing akibat terkena hujan tadi, selebihnya aku baik-baik saja.” Myungsoo mencoba menjelaskan, yang tentu saja tidak digubris oleh Soojung.

Soojung buru-buru mengambil kompresan dan menidurkan Myungsoo di sofa ruang tamu mereka. Dia mengompres oppanya itu perlahan-lahan.

“Oppa ini, berapa kali kubilang jangan main bola di tengah hujan! Berhentilah menyusahkan dirimu sendiri!” ketus Soojung. Jujur saja dia kesal, oppanya yang satu ini benar-benar keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan omongan orang lain.

Soojung mengompres Myungsoo dengan wajah ditekuk, sementara Myungsoo diam saja membiarkan Soojung melakukan apapun yang bisa membuatnya lebih tenang. Myungsoo terus memperhatikan Soojung sementara adiknya itu telaten merawatnya, tanpa dia sadari seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Kamu tumbuh menjadi yeoja yang begitu cantik, Soojung-ah…” celetuk Myungsoo tiba-tiba, tangannya meraih rambut Soojung, membuat yang disentuh menjadi kaku seketika. “N-neh?”

Myungsoo tersenyum menatap adiknya. “Cantik, baik hati, pandai memasak, pintar…” lanjut Myungsoo, masih dengan senyum di bibirnya. Soojung balik tersenyum kepadanya, bersyukur kalau oppanya melihatnya sebagai yeoja yang seperti itu.

“Alangkah baiknya kalau yeoja sebaik kamu, menemukan namja yang sama baiknya. Cepatlah kamu cari pacar Soojung-ah.” Dan senyum Soojung hilang pada akhir kalimat itu.

Soojung menatap oppanya nanar, sementara Myungsoo tetap tersenyum menatapnya.

“Ada apa?” tanya Myungsoo ketika adiknya itu tiba-tiba menjadi pendiam, tangannya pun berhenti bekerja. Tetapi Soojung langsung bangkit dari tempatnya dan berlari menuju ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Myungsoo, membuat yang ditinggalkan terheran-heran.

Ternyata aku memang selamanya hanya akan jadi ‘adik’ nya…

Malam itu, Soojung menangis sampai tertidur. Menangisi takdirnya yang menyakitkan, karena dia sadar telah mencintai oppanya sendiri. Lebih menyakitkan lagi, kakaknya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.

——

Jangan lupa sarapan sebelum berangkat. Jangan lupa ambil susumu di kulkas juga ya oppa!

Myungsoo menatap note kecil dan sarapan yang tersedia di hadapannya dengan bingung. Ini pertama kalinya Soojung pergi ke sekolah tanpa dirinya. Mungkinkah dia telah mengatakan sesuatu yang menyakiti adiknya itu semalam? Tapi apa? Sejauh yang diingatnya, dia hanya memuji Soojung…

Myungsoo menggaruk-garuk lehernya bingung. Ya sudahlah, mungkin adiknya itu hanya butuh suasana baru karena bosan selalu bersama dengannya. Akhirnya Myungsoo pun pergi ke sekolah sambil mengingatkan dirinya sepanjang perjalanan kalau dia harus mengajak Soojung bicara nanti di sekolah.

“Krystalssi.”

Soojung yang sedang asyik berbincang dengan Sulli menoleh ke arah teman sekalas yang memanggilnya barusan. “Neh?” tanyanya sambil tersenyum, membuat namja teman sekelasnya tadi gugup dibuatnya.

“Err.. itu, oppa-mu memanggilmu, dia disana.” Jawab namja itu, menunjuk ke arah pintu kelas mereka. Soojung melihat Myungsoo sedang berdiri dan melambai kepadanya disana.

Soojung langsung lemas, tetapi dia tetap berterima kasih kepada namja teman sekelasnya tadi. Dia bertukar pandangan dengan Sulli.

Sulli gerah sendiri melihat sahabatnya begitu gelisah di depannya. Sepertinya memang dia harus bertindak, batinnya, menghela napas dengan berat. “Kamu tunggu disini saja, biar aku yang bicara dengannya.” Katanya tak bersemangat.

Soojung menatapnya penuh rasa terima kasih, mengangguk.

Myungsoo hanya menatap heran melihat Sulli berjalan menghampirinya, bukannya Soojung. “Ada apa, Ssul? Soojung kenapa? Aku ingin bicara dengannya.” Jelas Myungsoo.

Tetapi Sulli melah mnarik lengannya, mengajaknya ke sisi koridor yang tidak begitu sering dilewati orang. “Sebelum kamu bicara dengannya oppa, aku ingin bicara denganmu terlebih dahulu. Oke?”

Myungsoo mengangguk.

Sulli menatapnya tajam, “Kemarin apa yang kamu katakan pada Soojungie, huh?” cecarnya.

Myungsoo mengedipkan matanya, bingung. “Kemarin?” tanyanya, benar-benar bingung.

“Aissh kenapa sih kalian berdua begitu lamban?!” teriak Sulli tiba-tiba, membuat dia dan Myungsoo mendapat tatapan aneh dari beberapa orang yang melewati mereka.

“Aku sudah sangat gerah ya melihat kehidupan percintaan kalian tidak ada perkembangan bertahun-tahun ini! Salah satu dari kalian tinggal bilang suka saja apa susahnya, sih?!”

Myungsoo tertegun, jantungnya berdegup kencang. “Huh?”

Sulli mendelik pada Myungsoo. “Sudahlah jangan coba-coba menutupi perasaanmu, aku tahu semuanya. Sebenarnya apa yang membuatmu takut, oppa? Apa yang kamu tunggu?”

Myungsoo diam saja menatap Sulli. Kata-kata Sulli terus terngiang di kepalanya. Sebenarnya apa yang membuatku takut? Apa yang kutunggu?

Pertanyaan itu belum sempat terjawab ketika, “Oppa! Yah! Myungsoo oppa!”

Myungsoo tiba-tiba ambruk, tidak sadarkan diri, dengan tubuh yag begitu panas seperti terbakar. Oh tidak, Sulli benar-benar lupa kalau Myungsoo sedang sakit.

——

“Namanya Soojung, mulai hari ini kalian adalah kakak beradik. Kamu harus menjaganya baik-baik ya, Myungsoo.” Jelas Appa Myungsoo pada Myungsoo kecil. Di sebelah Appanya ada seorang wanita dewasa berambut pirang yang sangat cantik, dan di samping wanita pirang itu, ada seorang malaikat kecil.

Anak perempuan itu, yang kata Appa bernama Soojung, sedang menatap Myungsoo dengan tatapan seperti ingin menangis. Jujur saja Myungsoo sangat benci orang asing, terutama orang-orang asing yang berada di dalam rumahnya. Dia benci ada orang asing yang akan menggantikan tempat Ummanya di rumahnya. Dia benci keluarga baru yang Appa bawa. Tetapi anak perempuan ini… tatapannya meluluhkan hati Myungsoo. Entahlah, Myungsoo seperti melihat dirinya yang dulu, dirinya yang begitu kalut ketika Ummanya baru saja meninggal. Dulu, dia memiliki tatapan yang sama dengan anak perempuan ini.

“Ayo kita bermain bersama, Soojung-ah!” ajaknya sambil mengulurkan tangan mungilnya kepada malaikat kecil di hadapannya itu. Soojung ragu-ragu, melirik Ummanya beberapa kali sebelum akhirnya menerima uluran tangan mungil yang diberikan kepadanya.

——

“Oppa… Umma dan Appa…. Kemana mereka pergi?”

Myungsoo menangis menatap Soojung. Dia harus menjawab apa? Menjawab bagaimana? Umma dan Appa mereka telah tiada, kecelakaan mobil tadi malam merenggut nyawa mereka.

Dia menatap Soojung dalam-dalam. Mulai hari ini tinggallah dia dan Soojung, Myungsoo telah berjanji pada Appanya, juga dirinya sendiri kalau dia akan menjaga Soojung dengan baik.

“Sementara Umma dan Appa tidak ada, kamu tidak boleh nakal ya, Soojungie. Jadilah anak baik dan turuti semua kata-kata Oppa. Oke?”

Soojung Mengangguk.

Begitulah. Myungsoo dan Soojung akhirnya menjadi kakak adik. Ya, mereka kakak adik. Karena itulah, mereka tidak seharusnya jatuh cinta kepada satu sama lain.

——

“Dia sadar…”

Myungsoo membuka matanya perlahan, mencoba menerima sinar matahari yang menyengat.

Soojung langsung memeluk Myungsoo begitu Myungsoo membuka matanya lebar-lebar. “Oppa! Syukurlah! Syukurlah… aku begitu khawatir takut kamu tidak akan pernah bangun lagi…” serunya kelewat bersemangat.

Soojung, Sulli, dan semua yang ada di ruang kesehatan itu begitu lega melihat Myungsoo sudah sadar lagi.

Sedangkan Myungsoo, begitu melihat Soojung, rasanya dia ingin terus pingsan saja. Dia tengah berada di dalam pelukan Soojung, rasanya ia ingin selalu berada disini. Selamanya berada dalam dekapan wanita yang dicintainya ini. Tapi wanita yang dicintainya ini adalah adiknya. Tidak seharusnya dia memiliki perasaan tidak berguna seperti cinta, tidak kepada adiknya sendiri.

Myungsoo segera melepaskan dirinya dari pelukan Soojung. “Aku baik-baik saja, maaf sudah membuat kalian khawatir.” Serunya sambil melemparkan senyuman mautnya menyapu ruangan.

“Kebiasaan burukmu sejak dulu tidak pernah hilang ya. Terlalu sibuk memperhatikan orang lain sampai-sampai lupa menjaga dirimu sendiri.” Celetuk Soojung tiba-tiba, menatap Myungsoo, sambil memukul bahu oppa-nya itu pelan. Tidak lama, mereka pun segera terhanyut dalam percakapan, yang sebenarnya mungkin lebih tepat jika dibilang, Soojung, dan teman-teman mereka mulai terhanyut menceramahi Myungsoo untuk lebih menjaga kesehatannya. Sementara Myungsoo, entahlah, pikirannya seperti terbagi dua. Dia ada disana bersama mereka, tetapi dia juga merasa sedang berada di tempat lain. Tempat lain, yang jauh dari ruang kesehatan sekolahnya. Tempat lain yang memperbolehkannya merasakan perasaan yang tidak seharusnya dirasakannya kepada anak perempuan cantik yang sedang tertawa di hadapannya ini.

Myungsoo mengalihkan pandangannya ke luar jendela, diluar hujan deras. Itu menjelaskan mengapa sejak tadi dia merasa sedikit kedinginan. Hujan mengeluarkan sisi melankolis dalam dirinya, dan dia benci itu. Entah sampai kapan dia akan terperangkap dalam labirin perasaannya sendiri seperti ini.

——

“Wah hujan..” Seru Soojung, entah pada siapa. Dia dan Myungsoo sekarang berdiri di depan lobby, hendak menuju ke gerbang untuk pulang ketika hujan tiba-tiba turun.

“Aku bisa melihatnya.” Myungsoo menimpali dengan santai, Soojung cemberut mendengar respon oppanya yang cuek setengah mati itu.

“Kau bawa payung kan? Ayo kita pakai bersama dan pulang, aku lelah.” Seru Myungsoo lagi, tapi adiknya itu tidak segera membalas, membuat Myungsoo menatap ke arahnya bingung. “Soojung-ah?”

Soojung lalu mengeluarkan payung lipat miliknya dari dalam tas. “Aku mau berbagi payung denganmu asal… dengan satu syarat!” celetuknya.

Myungsoo mengangkat sebelah alis matanya sangsi, “And what’s that?” tanyanya, menghela napas, adiknya ini selalu saja.

Soojung tersenyum menyeringai, “Oppa harus menggendongku pulang, dan aku akan memegang payungnya untuk kita berdua.” jelasnya bersemangat. Myungsoo menghela napas. Kalau tidak dituruti entah apa yang akan dilakukan setan kecil di sampingnya ini. “Baiklah..”

Dan begitulah, mereka pun pulang dengan keadaan sesuai dengan persyaratan yang diberikan Soojung. Mereka mengobrol sepanjang perjalanan, sampai tiba-tiba di tengah perjalanan, Myungsoo tidak mendengar sahutan dari adiknya, ketika dia menoleh, dilihatnya Soojung tertidur pulas dengan kepalanya tersandar di bahu kanannya. Tangannya yang sedang memayungi mereka berdua melonggar, sepertinya sebentar lagi payung itu akan jatuh. Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, payung itu jatuh. Myungsoo membiarkan saja payungnya, toh Soojung teta pulas terlelap meskipun sekarang mereka kehujanan.

Myungsoo terkekeh pelan. Diperhatikannya wajah adiknya yang sedang terlelap itu dengan seksama sambil berjalan pelan-pelan ke arah rumah mereka.

Cantik.

Entah apa yang merasukinya, beberapa detik kemudian bibirnya sudah menempel dengan bibir Soojung.

Dingin. Hambar. Begitulah seharusnya rasa ciuman pertamanya di tengah hujan itu. Tetapi yang dirasakan oleh Myungsoo justru kehangatan dan rasa rindu yang luar biasa. Seakan-akan hal ini adalah hal yang seharusnya dilakukan olehnya sejak lama. Seakan-akan bibirnya dan bibir Soojung memang diciptakan untuk bertemu.

Beberapa detik ketika bibir mereka menempel itu adalah beberapa detik terindah sepanjang hidup Myungsoo. Dia kemudian tersenyum hambar. Apa yang sudah kulakukan…

Hujan deras, dan gadis yang sedang digendongnya saat ini, benar-benar dia sangat membenci keduanya. Mereka datang sesuka hati tanpa peduli pada perasaannya.

“Soojung-ah.. Kamu datang seperti hujan yang deras. Menyerangku dan membasahi seluruh tubuhku, aku tak bisa sembunyi, tak bisa berlari. Aku membencimu..” bisiknya lirik, sambil menatap wajah adiknya yang masih tampak tertidur pulas.

“Aku sangat membencimu.. sangat.. sampai-sampai aku tidak bisa mencintai orang lain selain kamu.. tapi kita tidak mungkin bersatu, Soojung-ah.. aku akan selamanya menjadi Oppa yang melindungimu karena bagiku kau lebih berharga dariada apapun juga, dan suatu hari nanti aku bersumpah aku akan mengantarkanmu kepada laki-laki yang paling baik yang pantas menjadi pendamping hidupmu.. dan hujan ini, adalah saksi janjiku..”

Hari itu, hujan menjadi saksi bisu kisah Myungsoo dan Soojung. Hanya hujan yang tahu seberapa deras Myungsoo meneteskan air mata ketika mengucapkan kalimat sumpahnya kepada dirinya sendiri. Dan hanya hujan dan yang tahu seberapa deras Soojung terisak mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Myungsoo, betapa teriris hatinya berusaha diam dan berpura-pura terlelap saat menyadari kisah cintanya harus berakhir sampai disini. Saat itu, tak ada yang lebih diinginkan oleh Soojung dan Myungsoo selain agar hujan itu terus turun. Mereka ingin terus menangis. Ingin terus merasakan kehangatan terakhir, saat-saat terakhir mereka masih boleh saling mencintai satu sama lain. Biarkan hujan terus turun membasahi luka hati mereka sampai luka itu menganga besar dan mereka tak dapat merasakan apapun lagi.

END

Well.. Annyeong!

Tulisan comeback gue di tahun 2013 nih setelah 2 tahun fakum nulis! hehe. semoga masih ada yang inget sama blog gembel ini ya.. Insya Allah gue bakalan lanjut nulis lagi dan ngapdet semua series yang sempat tertunda! Wish me luck! 😀

9 Komentar (+add yours?)

  1. fafajung
    Mar 21, 2013 @ 14:54:25

    Sakit banget bacanya :*(
    Ga sengaja nemu ff ini,ceritanya sedih banget.bahasanya rapi alurnya asik.empat jempol buat authornya.
    Makasih banyak udah buat cerita couple paporit saya 🙂

    Balas

  2. ilmacuccha
    Apr 05, 2013 @ 14:22:16

    yah, yah, yah….
    kirain bakal happy ending myungstal bahagia ternyata malah tragis gini TT_TT
    kenapa gak bisa pacaran? mereka kan gak ada hubungan adik-kakak sama sekali, waeyo?
    a-yo bikin fanfic myungstal lagi dan harus happy ending yaaa thor /kedip
    NAISEU FANFIC!

    Balas

  3. saeriminnie
    Apr 11, 2013 @ 05:41:09

    walaupun nggak ada hubungan darah, mereka tetep keluarga. dan kalaupun pacaram, setelah itu, suka aja nggak akan cukup. banyak hal yg harus mereka korbankan. ^^

    sip! hwaiting! trims komen dan dukungannya!

    Balas

  4. marshmallow~
    Jun 27, 2013 @ 03:47:38

    Yahh T.T akumkira mrk bkalan pacaran, ternyata nggk..
    Hehehe, ff nya sweet bgt 😀 🙂

    Balas

  5. that xx
    Jul 07, 2013 @ 04:15:01

    Aaa kenapa mereka berdua gak bersatu aja 😥 miris masa liat myungsoo nya 😥 good thor. Keep writing

    Balas

  6. CavSoojung
    Sep 14, 2013 @ 06:19:16

    Kenapa harus sad ending sih π.π
    Tapi FF-nya bagus kok thor 😀
    Keep writing & perbanyak FF Myungstal :*

    Balas

  7. Ilo.Ve.AJ
    Jun 23, 2014 @ 02:12:30

    aaaaa keren! Myungstal jjangjjang! Dapet feelnya bgt ugh</3 tbh gue bukan orang yg bisa nangis cuma gara-gara baca ff sedih atau nonton film, daaan, ini berhasil bikin gua nangis, soooo this is such a greaaaaaat job, ugh oshem fanfic ❤
    gaya penulisannya rapi, ringkas, tapi nembak/? /nahlo/ bahasanya juga mengalir, bikin kita enjoy sendiri bacanya
    Jalan ceritanya sederhana tapi di kemas dengan apik daaaaan, ff ini mungkin salah satu ff ter wow yang pernah gua baca. hehe
    Daaan gak ada typo, yey ;D
    sip, keep going yep kaaaak~

    Balas

  8. Aydilidya
    Mei 21, 2016 @ 18:28:25

    Sukaa! Fanficnya bagus dan menyentuh. Tata bahasa dan gaya penulisannya pun rapi plus mudah dipahami. Alurnya gak monoton dan sukses bikin pembaca ikut hanyut dalam cerita. Kece bgt deh! Sukses trs yaa dan jgn berhenti nulis ^^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: