Melodies Of Life [SunHae Fic]


Title : Melodies Of Life

Pairing : Donghae & Sunye (SUNHAE)

Genre : AU, Angst, Romance

Rating : G

Length : Oneshot

Disclaimer : I own the plot, sunhae own each other^^ and once again, this beautiful poster goes to Glitters&Me! Thankyou Mell my darling, you are really the best! ♥

Summary : In my dearest memories, I see you reaching out to me…

Warning : Don’t like don’t read, just as simple as that.

A/N : Another songfic tentang the sweetest couple ever, enjoy people!^^ Oh iya, fic ini ditulis berdasarkan sudut pandang Donghae.

—————————

Hidup adalah sesuatu yang tidak kumengerti pada awalnya. Kupikir, kita hanya tinggal menjalaninya begitu saja. Kupikir hidup adalah sesuatu yang wajar, toh kita memang dilahirkan untuk hidup kan. Aku sebelum bertemu denganmu, adalah orang yang menjalani hidup dengan biasa saja, aku tidak merasa hidupku ini istimewa. Aku tidak bersyukur. Aku bodoh. Tapi pertemuan kita mengubah semuanya…

In your dearest memories, do you remember loving me ?

Was it fate that brought us close and now leave me behind ?

“Hae, pagi ini kamu bolos lagi, kan?”

“Iya. Lalu kenapa?”

Aku menatap Teuki-hyung yang menghela napas dengan berat. Sebenarnya aku tahu kalau tingkahku ini membuatnya susah, dan aku bukannya tidak tahu juga. Tapi bagaimana lagi, aku merasa bosan dengan keseharianku. Orang lain selalu bilang aku ini beruntung. Mereka selalu iri dengan kehidupanku. Mereka bilang aku sempurna, hidupku sungguh membuat orang iri. Tetapi orang-orang bodoh itu sebenarnya tidak tahu kalau tidak ada yang perlu mereka irikan dari kehidupanku. Mungkin aku memang kaya raya dan tampan, tapi hanya itu. Aku tidak punya teman, selain Eunhyuk dan Sungmin, itu pun karena kami memang sudah bersahabat sejak kecil. Orang tuaku lebih mencintai kehidupan mereka sendiri dibanding mengurusi aku. Hyungku, Leeteuk, lebih menyayangi anak-anak orang lain dibandingkan dengan adiknya sendiri. Aku sendirian, tidak ada yang mempedulikan aku. Apa yang membuat mereka merasa iri? dasar orang-orang bodoh.

“Hae?… kamu dengar, tidak?”

“Hng?!…”

Kulihat Leeteuk Hyung menggelengkan kepalanya, lagi-lagi aku mengacuhkannya karena terlalu asyik dengan pikiranku sendiri. Tapi aku tidak akan minta maaf, salahnya sendiri, berbicara denganku di saat aku tidak ada mood untuk mengobrol dengan siapapun.

“Hae, dengar. Mungkin sekarang kamu bisa bertindak sesukamu, tapi hidupmu tidak akan terus begini selamanya, Hae… Jangan sampai kamu menyesal suatu hari nanti.”

Aku diam, aku tidak peduli sedikitpun. Leeteuk Hyung hanyalah orang sok dewasa yang selalu berbicara omong kosong. Saat itu yang ada dalam pikiranku adalah lebih baik Leeteuk Hyung menghilang saja dari kehidupanku. Lebih baik dia dan orang tuaku tidak pernah ada. Tapi aku tidak tahu, alangkah baiknya jika aku tidak berpikir seperti itu.

—————————

“Kamu murid sekolah itu, ya?”

Siapa sih yang berani menganggu waktu tidur siangku?

Ada anak perempuan sedang berdiri menatapku sambil tersenyum. Bodoh, untuk apa dia tersenyum kepada orang yang tidak dikenal?

“Hei, kamu sedang bolos ya? Kenapa kamu tidur disini?”

“Jangan bicara padaku, jangan ganggu aku, pergi sana.” seruku ketus. Tapi yang mengesalkan adalah, anak ini bukannya pergi malah duduk di bangku tempatku tidur, dia bahkan terkikik geli.

“Kamu seharusnya tidak bolos… aku ingin pergi ke sekolah tapi tidak bisa… tapi kamu malah bolos sekolah…” kata anak perempuan itu. Meskipun dia tersenyum, tapi dia terlihat begitu sedih.

What the…? Donghae menggelengkan kepalanya. Perasaan apa ini? Kenapa dadaku terasa sakit?

Ketika aku menatapnya, menatap matanya, aku seperti terbius. Ada perasaan yang tidak pernah kukenali, membuatku resah. Apa-apaan anak ini, apakah dia menghipnotis aku?

Saat itu, aku tidak sadar bahwa kamu telah mengenalkan kepadaku perasaan yang disebut ‘simpati’.

—————————

“Hae, kamu ini selalu datang ke sekolah kenapa tidak pernah masuk kelas sih?”

Aku menatap Eunhyuk yang barusan bicara dengan malas, di sebelahnya Sungmin juga menatapku dengan tatapan khawatir.

“Urus saja urusan kalian sendiri.” jawabku ketus. Sungmin dan Eunhyuk yang memang sudah terbiasa dengan kelakuanku hanya menghela napas.

“Kamu harusnya mulai bersikap dewasa, Hae. Kasihan Teuki-hyung, kamu seharusnya tidak selalu membuatnya khawatir…”

Aku tertawa mendengar kalimat Sungmin barusan. “Khawatir? Mana punya waktu dia mengkhawatirkan aku? Dia hanya sibuk mengurusi anak-anak yatim piatu itu, aku bahkan ragu dia masih ingat kalau aku ini adik kandungnya.” cetusku, masih dengan nada sesinis sebelumnya.

“Hae…”

“Kamu benar-benar kekanakan Hae! Ayo pergi Sungminnie, percuma bicara dengan orang keras kepala seperti dia!” sahut Eunhyuk, yang entah kenapa tiba-tiba jadi marah. Donghae mengangkat alis matanya, menatap Eunhyuk yang menarik Sungmin pergi meninggalkannya sendirian di atap sekolah.

Donghae menatap langit yang begitu jauh di atasnya. Ketika sendirian seperti ini, dia jadi memikirkan terlalu banyak hal. Entahlah… mungkin… aku memang kekanakan dan keras kepala…

—————————

“Rumahmu kebakaran, semua yang berada di dalam rumah habis terbakar.”

Aku diam saja mendengarnya. Aku hanya menatap polisi yang ada di hadapanku ini dengan tatapan kosong. Semalaman aku tidak pulang ke rumah, karena itu aku begitu terkejut ketika menemukan rumahku sudah hilang begitu aku sampai disana.  Ada banyak orang berkumpul di sekitar rumahku. Tempat yang seingatku seharusnya adalah rumahku, kini sudah berganti menjadi reruntuhan-reruntuhan gosong.

Aku benar-benar tidak mengerti hidup. Sesaat aku memiliki segalanya, tetapi sesaat kemudian, aku kehilangan semua itu.

“Leeteuk-hyung… bagaimana dengan Leeteuk-hyung?” tanyaku kemudian, setelah menyadari aku belum melihatnya seharian ini.

Polisi itu menatapku iba, tatapan yang paling kubenci, dan perasaanku tidak enak melihat matanya. Dia lalu menghela napas berat dan menepuk pundakku. “Semua yang berada di dalam rumah habis terbakar.” kata polisi itu.

Tubuhku mulai bergetar, tidak mungkin…

“Semua, termasuk pelayan dan kakakmu yang sedang berada di rumah. Kebanyakan dari mereka sedang tertidur lelap saat kebakaran terjadi.”

Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak mengerti apa itu hidup. Sesaat Leeteuk-hyung masih begitu sehat, sesaat kemudian dia sudah pergi meninggalkanku. Orang tuaku bahkan terlalu sibuk untuk datang ke upacara pemakaman anaknya, entahlah apakah mereka sudah tahu Leeteuk-hyung sudah pergi.

Aku tidak ingin hidup. Aku tidak ingin menghabiskan waktu menjalani semua ketidakpastian dan kesia-siaan yang disebut hidup ini. Mungkin, ada baiknya Leeteuk-hyung pergi, mungkin dia akan lebih bahagia lepas dari kehidupannya. Mungkin, lebih baik aku pergi bersamanya.

—————————

“Hey!”

Aku membuka mataku, merasakan tepukan di lenganku dan suara menyebalkan itu mengudara.

Anak perempuan ini lagi…

“Hey Orabeoni, kamu kenapa selalu berada disini saat jam sekolah?”

Aku mengacuhkannya dan melanjutkan tidurku, anak perempuan ini benar-benar menyebalkan. Seharusnya dia belajar dari pengalaman untuk tidak menggangguku karena aku hanya akan mengacuhkannya.

“Donghae Orabeoni~!”

Anak ini…

“Aargghh! Kenapa sih kamu senang sekali menggangguku? Tidak tahukah kamu kalau aku sedang pusing, hah?! Lagipula apa-apaan kamu memanggilku Donghae Orabeoni?! Kamu tahu darimana kalau namaku Donghae, lagipula aku ini bukan suamimu, anak bodoh!!”

“Kamu lebih bodoh.”

Aku mengangkat alisku pada anak perempuan menyebalkan di hadapanku ini. “Apa maksudmu?” tanyaku setengah hati.

Anak itu lalu tersenyum. Apakah senyumnya memang semanis ini? batinku tanpa sadar, yang langsung kukutuki begitu menyadari aku baru saja memuji anak aneh ini.

“Kamu benar-benar bodoh, kamu tidak pantas memanggilku bodoh karena kamulah yang bodoh diantara kita.”

“Jangan bicara seolah-olah kamu mengenalku dengan baik.” sahutku kesal, aku tidak terima bocah ini merendahkanku.

“Jangan mengeluh seolah-olah hidupmu begitu menyusahkan.” balas anak perempuan itu. Tatapan matanya masih menyiratkan kesungguhan yang tidak kumengerti. Dan senyumnya, ada apa dengan senyumnya sehingga membuat jantungku berdetak kencang seperti ini?

“Namaku Sunye, ingat baik-baik ya, Orabeoni. Sampai ketemu besok!” dan begitulah, anak perempuan itu, yang mengaku bernama Sunye, pergi begitu saja. Membuatku memikirkan kata-katanya sampai aku gila.

—————————

Hari ini adalah upacara pemakaman Leeteuk Hyung. Ada begitu banyak orang yang tidak kukenal datang. Padahal sekarang hujan deras, tetapi mereka semua tetap datang mengantar kepergian Leeteuk Hyung. Orang-orang yang tidak kukenal itu semuanya menangis. Tangisan mereka yang tersedu-sedu seakan-akan mereka baru saja kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup mereka. Sedangkan aku, aku diam saja. Tidak ada air mata yang menetes setitikpun. Tidak ada sedikitpun perasaan sedih. Beberapa teman dan kerabatnya memandanganya dengan simpati, mereka bilang aku boleh menangis, kesedihan tidak perlu ditahan-tahan. Tapi mereka tidak tahu kalau aku benar-benar tidak merasakan apapun.

“Hae, aku antar Sungminnie pulang dulu, ya. Dia sudah kelelahan karena terlalu banyak menangis.”

Aku menatap Eunhyuk, di sebelahnya Sungmin memeluk lengannya sambil sesengukan. Sungmin begitu terpukul ketika mendengar bahwa Leeteuk Hyung meninggal dunia. Sungmin mengagumi Leeteuk Hyung, karena itu dia sangat sedih. Aku mengangguk saja pada Eunhyuk, tidak peduli juga. Mereka lalu hilang dari kerumunan.

Aku diam saja melihat orang-orang datang dan pergi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hidup itu untuk mati. Apa gunanya kan menangisi hal yang sudah pasti. Jadi aku hanya perlu diam saja, meninggal itu hal yang wajar.

“Donghae…”

Aku menoleh, ada Saera-ssi, ahjumma yang tinggal di sebelah rumahku. “Ada apa?” tanyaku, berusaha terdengar sopan walaupun dalam hati aku malas bukan main.

“Ada banyak anak kecil yang mengaku anak asuh Hyungmu memaksa masuk diluar…” jelas Saera-ssi. Aku mengangkat alis mataku, lalu bangkit dari tempat dudukku menuju keluar. Dan benar saja, ada puluhan anak kecil disana. Mereka semua langsung berseri melihatku.

“Donghae Hyung!” panggil salah satu dari mereka. Aku makin bingung. Siapa anak-anak ini? Sok akrab sekali memanggilku Hyung.

“Kalian berasal darimana?” tanyaku.

“Kami anak-anak dari yayasan yang diasuh oleh Leeteuk Hyung. Kami semua kesini karena kami ingin mengantar kepergian Hyung yang sangat kami cintai…”

Akhirnya, karena tak ingin menarik perhatian lebih jauh, aku membiarkan mereka masuk. Anehnya, semua orang yang ada disitu pun memberi jalan kepada anak-anak itu. Sesampainya di depan jasad Leeteuk Hyung, mereka berhenti, membuat barisan.

“Hyung, ini Minho. Terima kasih banyak atas semuanya selama ini, Hyung. Kamu membuatku merasakan seperti apa bahagianya memiliki Ayah dan Hyung yang tidak pernah kumiliki sebelumnya. Terima kasih, aku tidak akan pernah melupakanmu, aku mencintaimu.”

Ada sesuatu yang bergerak dalam diriku ketika aku mendengar kata-kata anak bernama Minho itu. Melihatnya meletakkan bunga melati di sekitar peti Leeteuk Hyung, ada sesuatu yang membuatku merasa gelisah. Perasaan apa ini?

“Hyungie… Teuki-hyungie… ini Taeminnie… ternyata benar ya, orang baik cepat meninggal… Hyungie, aku janji aku akan jadi penari handal, Hyung akan selalu melihatku dari atas kan? Aku mencintaimu…”

Anak bernama Taeminnie itu juga menaburkan bunga melati di sekitar Leeteuk Hyung. Begitu terus, satu persatu anak-anak itu menyampaikan pesan terakhir mereka. Aku dan orang-orang lain yang berada dalam ruangan tanpa sadar jadi terhanyut dalam pemandangan mengharukan tersebut.

Leeteuk Hyung… begitu dicintai…

Hidup adalah sesuatu yang tidak kumengerti. Sekarang, setelah melihat puluhan anak-anak dan orang-orang ini merasa begitu kehilangan. Menangis, menumpahkan semua perasaan mereka… aku merasa, mungkinkah akan jauh lebih baik jika Leeteuk Hyung tetap hidup?

“Teuki Hyung, kamu selalu bilang, hidup itu seperti berkhayal, dan setiap khayalan pada akhirnya akan berakhir karena kita harus terbangun. Pertemuan kita mirip dengan khayalan, terlalu indah seperti sedang berkhayal, dan sekarang kami harus terbangun tanpamu. Tapi walaupun mirip, pertemuan kita ini bukan khayalan, tapi kenyataan. Sampai kapanpun, kami akan selalu berterima kasih kepadamu, Hyung. Kamu sangat berarti bagi kami semua, kami mencintaimu, selamanya. May you rest in peace, Teuki Hyung.”

Semua orang yang berada disitu, anak-anak itu, kerabat-kerabatku, orang-orang yang tidak aku kenal, semuanya, menangis mendengar kalimat anak yang kuingat bernama Minho itu.Dan saat kubilang semuanya, itu berarti semua, termasuk aku.

Setelah mendengarkan semua itu, aku jadi menginginkan sesuatu. Aku, yang setelah sekian lama menyerah untuk menginginkan apapun, hari ini kembali menginginkan sesuatu. Aku ingin… menjadi orang yang seperti itu. Aku ingin dicintai.

—————————

“Apa yang membuatmu tiba-tiba rajin ke sekolah, Orabeoni?”

Tebakan kalian benar, itu adalah Sunye, lagi. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Entah sejak kapan aku selalu menyempatkan diri untuk datang ke taman ini, yang selalu kupakai sebagai tempat tidur siang saat aku bolos sekolah, walaupun sekarang aku tidak pernah bolos lagi.

“Hey Donghae jawab aku!”

“Anak ini, jangan sembarangan memanggil nama orang yang lebih tua darimu!” seruku padanya, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak marah.

Sunye terkikik, tanpa sadar menumbuhkan seulas senyum di bibirku juga. “Hey, kenapa kamu selalu memanggilku, Orabeoni?” tanyaku penasaran, kepada Sunye yang sekarang sudah duduk di sebelahku.

Sunye lalu terkikik lagi, melihatku dengan tatapan jahil, “Kalau kamu tidak suka, aku akan memanggilmu Anata, bagaimana?” jawabnya.

“Anata?” tanyaku.

Sunye mengangguk. “Itu bahasa Jepang, panggilan seorang istri kepada suaminya. Lebih baik yang mana, Orabeoni atau Anata, terserah kamu saja, Donghae-ssi, aku tidak keberatan yang manapun yang kamu pilih.” serunya, masih dengan ekspresi jahilnya tadi.

Aku hanya menggelengkan kepalanya mendengar semua kata-katanya, entah bagaimana anak ini benar-benar terobsesi menjadikan aku suaminya. “Terserah kamu sajalah, hahaha.” kataku, tohaku tidak keberatan.

“Hey Oppa, apa kamu punya kakak atau adik?” tanya Sunye tiba-tiba. Aku menatapnya sebentar, melihatnya tersenyum menatapku, menunggu jawabanku dengan manis.

Kalau dulu, mungkin aku akan menjawab ‘tidak’. Kalau dulu, mungkin aku bahkan akan mengacuhkannya. Aku yang dulu, mungkin tidak akan ada disini, duduk berdua dengan anak perempuan ini, dan tersenyum sambil berkata, “Aku punya seorang Hyung yang sangat luar biasa, dia dicintai oleh begitu banyak orang, aku ingin suatu hari nanti aku menjadi orang yang seperti itu.”

Aku menatap Sunye, tersenyum. Dia juga tersenyum kepadaku. “Hey Sun, apa yang paling kamu sukai di dunia ini?” tanyaku padanya.

Sunye terkikik geli sebelum menjawab, “Oppa!” serunya. Aku tertawa mendengar jawabannya, benar-benar anak satu ini. “Maksudku selain diriku, hal apa yang paling kamu suka?”

Senyum di wajah Sunye sempat menghilang, hanya sebentar tetapi hal itu tertangkap oleh mataku, tatapan matanya pun jadi menerawang, dia kemudian melihat ke langit, tangannya menjulur ke atas seakan-akan ingin meraih awan.

“Kupu-kupu.”

Aku menatapnya. “Kupu-kupu?” tanyaku memastikan.

Sunye lalu menarik tangannya dan kembali menatapku, tersenyum, senyum yang paling indah yang pernah kulihat darinya. Dia mengangguk sebelum berkata, “Iya, aku sangat suka kupu-kupu.”

“Kenapa?”

Dia tersenyum, “Karena…”

—————————

So far and away, see the bird as it flies by
Gliding through the shadows of the clouds up in the sky
I’ve laid my memories and dreams upon those wings
Leave them now and see what tomorrow brings

“Hae, benarkah kamu keluar dari klub sepak bola?” kudengar Eunhyuk bertanya, Sungmin di sebelahnya juga diam menatapku, menanti jawaban dari pertanyaan yang sama.

“Iya, aku banyak urusan.” jawabku singkat, sambil terus membereskan barang-barangku, aku ingin cepat-cepat pulang.

Kulihat dua sahabatku itu saling pandang. Aku sebenarnya tidak kaget kalau mereka terkejut mendengar aku keluar dari klub sepak bola. Klub sepak bola adalah satu-satunya alasan yang membuatku terus datang ke sekolah, aku bahkan kapten klub sepak bola. Tapi itu adalah diriku yang dulu, sekarang aku adalah Donghae yang baru.

“Minnie, Hyukkie, aku duluan ya!” kataku pada mereka, setelah aku selesai merapikan barang-barangku. Aku lalu melesat keluar, tanpa menunggu mereka membalas sapaan pamitku. Hari ini aku sudah janji akan datang mengunjungi panti yang didirikan Leeteuk Hyung. Kalian tahu, beberapa hari ini aku sering kesana.

Aku bahkan lebih sering menghabiskan waktuku di panti itu ketimbang di apartemenku (orangtuaku memberiku apartemen sebagai ganti rumah kami yang terbakar). Berbicara dengan anak-anak itu membuatku merasa seakan-akan Leeteuk Hyung masih ada disini bersamaku. Kami membicarakan banyak hal, ini itu, dari mulai hal penting sampai yang sepele.

Dan dari anak-anak inilah aku tahu kalau sebenarnya Leeteuk Hyung sangat menyayangiku. Mereka bilang, setiap hari Leeteuk Hyung selalu bercerita tentangku, dia juga selalu menunjukkan fotoku kepada mereka, karena itu mereka langsung mengenaliku pada hari pemakaman itu pdahal itu adalah kali pertama mereka melihatku secara langsung.

Anak-anak ini, mengajariku apa arti keluarga yang sesungguhnya. Bagaimana hangatnya sebuah kebersamaan, yang selama ini tidak pernah kurasakan. Mereka membuka mataku, mereka memperlihatkan kepadaku betapa berarti hidup kita di dunia. Mereka mengajakku merasakan banyak hal yang tidak pernah kukenal. Leeteuk Hyung, anak-anak yang sangat luar biasa ini adalah anak asuhmu, kamu benar-benar Hyung paling luar biasa di seluruh semesta…

Tetapi ada seorang lagi yang sebenarnya membantuku menjadi aku yang seperti sekarang. Anak perempuan itu, yang begitu ingin aku menjadi suaminya, Sunye. Siapa dia sebenarnya? Darimana asalnya? Aku baru sadar kalau aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang dirinya.

—————————

“Hae Hyung! Kamu datang lebih awal hari ini!”

Aku tersenyum pada Taeminnie, diantara anak-anak disini dialah yang paling dekat denganku. Aku mengacak-acak rambutnya, “Iya, murid-murid dipulangkan lebih cepat karena ada rapat.” jawabku. “Kalian mau pergi kemana?” tanyaku, melihat beberapa dari mereka sudah siap dengan pakaian rapi dan bingkisan di tangan.

“Kami akan pergi menjenguk seorang teman, Hyung. Seharusnya dia tinggal disini, tetapi karena kesehatannya, dia terpaksa menginap di Rumah Sakit.” jawab Minho, yang setelah Donghae mengenal mereka lebih dekat, adalah anak yang paling dewasa diantara mereka semua.

“Hyung tolong jaga Taeminnie dan yang lain ya, kami tidak akan lama.” kata Minho lagi. Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya, lalu melambai kepada Minho, Soojung, dan Junho mengantar kepergian mereka.

“Sebenarnya siapa teman kalian yang sakit ini?” tanyaku pada Taemin, ketika kami sudah duduk di ruang tamu menonton DVD.

“Sun Noona? Dia seumur dengan Minho Hyung, dia wanita yang paling cantik di panti ini!” jawab Taemin, matanya masih terpaku pada layar televisi.

Pandanganku menerawang mendengar penjelasan dongsaengnya itu barusan. Sun? batinku, entah kenapa aku merasa ada sesuatu dengan ‘Sun’ ini.

—————————

“Orabeoni, minggu depan adalah ulang tahunku! Ingat, tanggal 12! Aku tidak akan memaafkan kalau kamu lupa!”

Aku tersenyum saja, mengangguk, sambil mencatat dalam benakku tanggal ulang tahunnya.

“Orabeoni! Ayo kita segera menikah!”

Kalau aku tadi tersenyum, aku tertawa sekarang, anak ini benar-benar. “Apa maksudmu?”

“Ayo kita segera menikah! Ayo, aku ingin menjadi istrimu, Orabeoni!”

“Kenapa kamu sangat ingin menjadi istriku, sih?” tanyaku bercanda.

“Karena aku mengagumimu sejak dulu, Orabeoni! Angel Oppa selalu bercerita tentangmu, pokoknya aku ingin menjadi istrimu ekarang juga!”

“Angel Oppa?” tanyaku, alis mataku terangkat. Sunye mengangguk. “Iya, pokoknya ayo kita menikah sekarang!”

“Kenapa begitu terburu-buru, kamu kan masih belum cukup umur.” kataku lagi.

Sunye diam, aku pun diam menunggu jawabannya.

“Usiaku tidak akan pernah cukup, aku tidak bisa menunggu…”

“Apa maksudmu?” tanyaku, entah kenapa jantungku berdetak keras mendengar kata-katanya barusan.

Sunye lalu menggeleng, tersenyu padaku. “Tidak. Ah kamu tahu Orabeoni, minggu depan adalah ulang tahunku yang ke 17! Jadi jangan anggak aku anak kecil lagi, aku sudah boleh menikah! Jadi ayo kita menikah!”

Mendengarnya berkata seperti itu, aku tertawa lagi. Mungkin tidak buruk juga memiliki istri seperti ini. Eh tapi tunggu…

“Usiamu sekarang 16 tahun? Hanya berbeda setahun denganku, dong?!” seruku terkejut, jujur selama ini kukira usianya baru 14 atau 15, dia tidak menyangka mereka hampir sebaya.

“Kamu sih selalu memandang rendah orang, hahaha.”

“Jangan meledekku!” sahutku tidak terima.

“Hey, saat ulang tahunku nanti, aku ingin kamu bawakan aku kupu-kupu yang banyak ya! Siapa tahu kalau ada begitu banyak, mereka bisa membawaku terbang…”

Kata-katanya saat itu, menggerakkan sesuatu dalam diriku.

—————————

Saat ini, aku berada di dalam sebuah kamar di salah satu Rumah Sakit. Ada Taemin, Minho, dan anak-anak yang lain bersamaku. Mereka semua menangis. Kecuali aku.

Di tempat tidur, terbaringlah matahariku. Sunye. Tubuhnya kaku, tidak bergerak sedikitpun. Kedua matanya tertutup.

Encephalopathy. Salah satu akibat dari gagal hati, Sunye mengidap penyakit tersebut sejak lahir. Karena semakin hari keadaannya semakin parah, Leeteuk pun memaksanya untuk tinggal di Rumah Sakit. Penyakit itu merusak sel-sel otaknya secara perlahan-lahan, dan akhirnya, hari ini, penyakitnya itu membawanya pada tidur panjang. Tidak, dia belum meninggal, jantungnya masih berdetak walaupun sangat lemah.

Hari itu sore hari tanggal 11, hanya beberapa jam sebelum ulang tahunnya. Aku baru tahu, ternyata Angel Oppa itu adalah Leeteuk Hyung. Selama ini dia selalu mendengar tentangku dari Leeteuk Hyung. Sunye, atau Sun Noona, bagaimana dia dipanggil oleh anak-anak panti, selalu bilang kalau suatu hari nanti dia akan menjadi istriku. Aku juga baru tahu, kalau Sunye tidak bisa hadir ketika pemakaman Leeteuk Hyung karena penyakitnya menyerang, dia teralu shock mendengar berita bahwa Angel Oppa-nya telah tiada.

Hidup… adalah sesuatu yang tidak kumengerti. Kenapa aku harus bertemu dengannya, merasa tertarik, simpati, cinta… lalu kami harus dipisahkan? Aku tidak mengerti.

Malam itu, aku dan anak-anak panti, juga dokter-dokter, perawat, semua orang yang mengenal Sunye, berkumpul berkumpul di halaman Rumah Sakit untuk merayakan ulang tahunnya.

“Sunye-ah… selamat ulang tahun. Hari ini usiamu 17 tahun, kamu sudah cukup umur untuk menikah… karena itu…” aku lalu mengambil kotak kecil dari saku celanaku. Di kotak tersebut, ada dua buah cincin.

“Menikahlah denganku, ya. Diantara begitu banyak hal yang tidak kumengerti tentang hidup, kamu adalah salah satu dari sedikit kepastian yang membuatku bersyukur aku telah hidup. Kamu tahu, perasaanku padamu ini bukan cinta, tapi lebih dari itu. Happy birthday my sun, my everything.” dengan itu, aku meletakkan salah satu cincin di jari manis Sunye, dan satu lagi di jariku.

“Sunye-ah, kamu sudah menjadi istriku sekarang.” kataku. Suaraku bergetar. Entah karena angin malam yang menusuk, atau karena hatiku yang seperti tertusuk.

Jari-jemari Sunye tiba-tiba bergerak. “Aku… senang bisa hidup… dan bertemu dengan kalian semua…” bisk Sunye lirih.

Taemin, Minho, anak-anak panti, semuanya sudah menangis mendengar suara Sunye. Mataku pun sudah basah karena air mata. Aku tidak percaya ini adalah kali terakhirku mendengar suara yang indah ini.

“Orabeoni…”

“Ya..?”

Sunye tersenyum, “Tolong… hiduplah untuk bagianku juga, ya…”

Sunye pernah bilang, dia sangat suka kupu-kupu, karena itu aku menyuruh semua anak panti membawa satu kupu-kupu, aku sendiri menangkap lebih dari dua puluh. Kami menerbangkannya bersamaan dengan menutupnya kedua mata Sunye.

“Kalau ada begitu banyak, mereka bisa membawaku terbang…”

Bersamaan dengan dilepaskannya kupu-kupu itu, terbangnya mereka ke angkasa, mereka juga membawa pergi orang yang berharga bagiku. Sunye, semoga hidupmu bahagia di alam sana.

Kamu telah membuatku merasa dicintai. Mengenalmu membuatku menjadi orang paling luar biasa. Selamat tinggal matahariku…

—————————

“Iya, aku sangat suka kupu-kupu.”

“Kenapa?”

“Karena kupu-kupu bisa hidup berkali-kali, mereka tidak benar-benar mati.”

“Kamu aneh. Kalau hal yang kamu takuti?”

“Aku takut pada masa depanmu, karena aku tidak tahu apakah aku akan menjadi bagian dari masa depanmu atau tidak, Orabeoni.”

—————————FIN—————————

Fanfic yang pengerjaannya memakan waktu yang sangat lama! Tetapi entah kenapa gue tetap tidak puas dengan cerita ini! Seharusnya ini publish kemarin pas ultahnya Sun, tapi karena satu dan lain hal… yah… gitu deh… Sekali lagi, makasih banyak buat yang sudi baca ff geje ini, apalahi yang rela ngomen… annyeonglah 😀

_Saeriminnie_

29 Komentar (+add yours?)

  1. Yoon Sae-Ra
    Agu 13, 2011 @ 12:56:28

    ya ampun aku nangis
    kasian haepa hueeeee
    T____________T
    *mewek di pelukan umin*
    yak saerim…aku lagi serius baca kok tiba2 ada yg mengganjal ya..pas bagian “ada Saera-ssi, ahjumma yang tinggal di sebelah rumahku” sungguh aku merasa tersindir =..=a

    Balas

  2. puchaaby
    Agu 13, 2011 @ 14:04:05

    annyeoooooongggggggg authorrrr…….. 😀 😀

    sunhae shipper datang lagi wkwwkwkw………

    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ni author bener2 dah the master of angst
    kyaaaaaaaaaaa kenapa ceritanya tragis banget *tarik-tarik leher author #nangis di pelukan yeppa
    mana pas baca sambil dengerin lagunya padi yg harmoni,,bener2 pas banget +_+

    pertama kali baca ni ff pas siang2,,,dengan segenap tenaga berupaya supaya ngk mewek baca ni ff *biar ngk batal puasanya hehehe
    dan akhirnya malam ini saya baca lagi,,dan akhirnya tumpahlah semua air mata yg ditahan dari tadi siang huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa #srooooooootttt ngelap ingus ke baju author

    sumpah semua ff di blog ini super duper amat sangat banget banget keren,,,bener2 menguras esmosi……

    gud job buat authornya *bikin buku aja author,,tp main castnya sunhae hehehehe

    bingung mo comment apalagi =,=
    gomawo
    _bow_

    Balas

    • saeriminnie
      Agu 13, 2011 @ 16:08:08

      kenapa ngelap ingusnya ke baju aku?=__=’
      hehehe tapi pujianmu apakah tidak terlalu berlebihan? jadi malu! (>///<)
      makasih yaaa udah baca+komen, love you!<3

      Balas

  3. Aku
    Agu 13, 2011 @ 14:54:28

    huwaaaaa…nangis nangis bacanya.kenapa tragis banget endingnya.WHY WHY???
    tapi tetep so swit.jadi kebayang melulu XD
    makin cinta sama couple yang satu ini.SunHae SunHae…
    ditunggu ff yang lain ya onn.tapi castnya tetep SunHae!!!hhe
    gomawo…

    Balas

  4. Rawr
    Agu 13, 2011 @ 20:03:06

    Onnie ;____;
    Ini sedih banget……….. Si hae juga batu banget, kakaknya meninggal, ga nangis-_-
    Di sini sun yg suka ya~ kkkk
    Tp ttl bagus! Ditunggu yg lain \^o^/

    Balas

  5. devichipinch
    Agu 14, 2011 @ 03:23:37

    huwaaaaa ceritanya mengenaskan eonnn TT___________TT
    eonnie tega ih, membunuh Leeteuk kwokwowkow 😀

    good job eon,, TOP BGT dah kalo buat yang angst 😀
    lanjutkan berkaryaa!! XD

    Balas

  6. Trackback: 8 Fakta, Menjadi Anak dan Menjadi Orang Tua « ONOVsiahaan
  7. Trackback: Pensil & Penghapus (Anak & Orang Tua) « ONOVsiahaan
  8. Trackback: ketika « online212
  9. hidayatulfaizah
    Agu 15, 2011 @ 09:40:37

    annyeong…annyeoooonngg ^^
    halo author…aku readers baru ^^
    tolong terima aku di blog ini ya. wakakak~
    aku suka FF sunhae.. tapi banyakan yang tragis TT_TT
    oke deh, author, lanjutkan ff sunhae yang lain ya XD

    Balas

  10. Trackback: kering « Pesona Syair
  11. Trackback: Biografi Sang Master : Limbad « BIMZnews.com
  12. Trackback: Hayden Terpaku Menanti Suku Cadang Anyar « BIMZnews.com
  13. Aerie epynation
    Sep 03, 2011 @ 00:59:52

    Sedih puol ane…..teuk matu,sun mati pula…..Aq suka kalimatnya,,,,sederhana tp berbobot *lahapalahni*

    Balas

  14. Trackback: The Poor, Needy or Destitute | Ask "Video News Net"
  15. ssul
    Okt 16, 2011 @ 05:36:41

    ya ampun donghaeeeeeeee kesian sekali hidupmu ditinggal 2 orang yang paling dicintai huaaaa sini sama aku aja *hug donghae*
    ffnya bagus,aku suka gaya bahasamu 🙂
    dan aku nangis pas akhirnya …huaaaaaaaaaaa …sroooooot
    eh btw aku pembaca baru nih,aku suka sunhae hihihi salam kenal 🙂

    Balas

  16. cha_gyumin
    Okt 30, 2011 @ 07:22:45

    aku mewek. huweee.. !!! T_T *ngelap ingus di bajunya kyu*
    hae ga pernah bersyukur sih sama hidupnya. tapi akhirnya dia sadar juga. nice ff, thor. ^^

    Balas

  17. sunhae
    Nov 29, 2011 @ 15:55:23

    malaikat tanpa sayap T_T

    Balas

  18. Risha
    Mei 14, 2012 @ 04:36:00

    ampunnn demi apa ini sedih banget huweeee T.T
    like this blog 🙂

    Balas

  19. isaloka2409
    Mar 20, 2013 @ 15:31:27

    eechemm! Isaloka imnida reader baru!
    Eon , sumpah demi apapun aku suka sangat sangat suka ff ini.
    Ceritanya menyayat hati,, kasian bnget abang ikan,
    Huu, aku benar2 g bisa berhnt nangis,,
    Very very Spechless!
    Like This!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: