Rare Butterfly [SunHae Fic]


 

Title : Rare Butterfly (A Sequel of One Moment In Time)

Pairing : Donghae (SJ) & Sunye (WG)

Genre : AU, Fluff, Romance

Rating : PG

Summary : Cinta itu seperti kupu-kupu, jika kita mendekatinya dengan tergesa-gesa maka dia akan menjauh…

Warning : This is SUNHAE STORY, don’t like don’t read, STOP BASHING IF YOU’RE SMART PEOPLE! Thx.^^


————

Seorang laki-laki paruh baya sedang sibuk menyusun foto-foto hasil jepretannya. Senyum tidak pernah meninggalkan bibirnya selama dia melakukan pekerjaannya tersebut. Tidak, dia bukan orang gila. Laki-laki ini hanya terlalu bahagia, bagaimana dia tidak bahagia jika yang menjadi objek di semua foto-fotonya adalah orang yang paling dia cintai, wanita terindah yang membuat hari-harinya menjadi cerah ceria tralalalala.

“Oppa, kamu gila ya?”

Senyum di wajah Donghae lenyap seketika. Dia membalikkan badannya dan mendelik pada adik perempuannya yang mengganggu di tengah-tengah mimpi indahnya.

“Kamu ini, berapa kali kubilang jangan pernah memasuki studio ketika aku sedang bekerja, hah?” seru Donghae, berusaha keras terdengar kesal. Tapi Saerim tahu betul, oppanya ini tidak bisa marah, jadi dia hanya menyeringai.

“Ohh… jadi sekarang pekerjaannmu sudah ganti dari fotografer menjadi stalker, ya?” kata Saerim sambil mengangguk-anggukan kepalanya, tatapan matanya seakan meneriakkan aku-tahu-apa-yang-ada-dalam-pikiranmu-oppa.

Donghae hanya meremas rambutnya frustasi, adiknya yang satu ini memang benar-benar…

“Oh iya aku lupa, aku kesini karena Umma bilang makan malam sudah siap. Cepat turun atau tidak akan ada jatah untukmu.” Dan dengan itu Saerim pergi.

Donghae memandangi lagi foto-foto yang akan dicucinya tadi, tanpa dia sadari di bibirnya sudah tersungging sebuah senyuman. Sunye selalu bisa membuatnya tersenyum, bahwan hanya melihat fotonya saja membuatnya begitu tenang dan bahagia. “Oh my sunshine~” tanpa sadar Donghae bernyanyi. (jangan tanya judul lagunya)

“OPPA JATAHMU SUDAH HABIS KUMAKAN!!!”

Donghae melotot mendengarnya. “SIAL!” Dia pun segera keluar dari studionya menuju ke ruang makan, berharap masih ada sisa nasi dan lauk untuk malam ini.

Sementara itu, beberapa kilometer dari rumah Donghae…

“Halmeoni, aku ingin mengakui sesuatu…”

Sunye dan neneknya sedang makan malam berdua seperti malam-malam yang lain. Neneknya langsung menatapnya aneh setelah mendengar kalimatnya barusan. Sunye menelan ludahnya dengan gugup, now or never, batinnya.

“Ngg… begini halmeoni, kamu tahu kan toko bunga yang ada di ujung jalan sana?” kata Sunye gugup, di bawah meja, dia memainkan jari-jarinya, kebiasaannya ketika sedang gelisah.

“Iya, tahu. Ada apa dengan toko bunga itu?” tanya neneknya, Sunye pun menatapnya takut-takut. “Ngg… aku… toko itu kan sedang membutuhkan karyawan, aku… melamar menjadi karyawan disana, halmeoni…” jawabnya pelan, menunduk. Sunye memejamkan matanya menunggu reaksi dari neneknya. Tapi beberapa menit berlalu dan, hening, tidak terdengar sepatah kata pun keluar dari neneknya. Sunye pun mengangkat kepalanya. “Halmeoni?”

Sunye sedikit terkejut ketika melihat neneknya sedang menatapnya dengan tatapan iseng. “Halmeoni…? Kamu… tidak marah?” tanyanya ragu-ragu, agak bingung juga melihat ekspresi neneknya yang tidak bisa ditebak. Tapi kemudian neneknya tertawa, nah lho, Sunye pun tambah bertanya-tanya.

“Kamu ini, awalnya nenek mau marah, tapi tidak jadi.” kata neneknya sambil tertawa, matanya melirik ke kalender yang terpajang di atas bufet kecil di samping meja makan. Wajah Sunye langsung memerah begitu melihat apa yang tertera di kalender tersebut, ada bentuk hati berwarna merah meyolok melingkari sebuah tanggal.

“Nenek hampir lupa kalau dua minggu lagi adalah ulang tahunnya, sebenarnya apa yang akan kamu berikan padanya sampai perlu kerja segala, sih?” tanya neneknya penasaran, masih menyeringai. Akhirnya Sunye pun menceritakan rencananya kepada neneknya itu meskipun dengan suara yang bergetar dan wajah bersemu merah karena malu. Ditambah lagi, ledekan-ledekan dari neneknya di sela ceritanya juga tidak membantu.

————

Donghae sedang berjalan mengelilingi kota dengan tersenyum. Dia sangat suka bulan Oktober, karena menurutnya daun-daun yang berguguran merupakan sebuah fenomena yang sangat indah, begitu indah sampai dia ingin selalu mengabadikannya ke dalam gambar. Angin musim gugur juga berbeda dengan angin di musim yang lain. Angin di musim gugur membuatnya merasa kesepian, bukan dalam arti yang negatif, kalian pasti mengerti rasa kesepian yang membuatmu merasa ingin mendapatkan kehangatan dari orang yang kamu cintai, begitulah yang Donghae rasakan. Dan kalau membicarakan cinta, ada satu orang yang selalu menghantui pikirannya.

Ketika asyik berjalan sambil jepret sana-sini, tanpa sadar Donghae sudah tiba di taman kota. Donghae tersenyum mengamati keadaan sekitar taman itu, bertahun-tahun dia tinggal disini, taman ini tetap tidak berubah. Masih sama seperti saat dia kecil dulu, dialah yang berubah, waktu terus berjalan. Sekarang mana mungkin dia bisa menaiki mainan-mainan itu? Donghae lalu tertawa karena pikirannya sendiri.

Tapi taman ini memang sangat berarti baginya. Selain menemaninya tumbuh dewasa, di taman ini juga Donghae pertama kali bertemu dengan orang yang dicintainya itu. Tujuh tahun yang lalu, pertama kali dia melihat Sunye, dia hanyalah seorang anak kecil yang duduk di sekolah dasar. Tujuh tahun yang lalu Donghae hanyalah seorang mahasiswa yang bekerja part time sebagai fotografer pengganti. Tapi sekarang, Donghae sudah cukup mempunyai nama sebagai seorang fotografer, dan Sunye telah tumbuh menjadi wanita yang begitu luar biasa.

Donghae menghela napas. Tujuh tahun yang lalu, dia tak akan pernah menyangka kalau perasaannya kepada anak perempuan yang lebih muda sepuluh tahun darinya itu akan berkembang menjadi seperti sekarang. Selama tujuh tahun ini, Sunye telah menjadi model tetap Donghae. Mau bagaimana lagi, Donghae benar-benar tidak bisa berhenti memotretnya, Sunye terlalu cantik, terlalu indah sampai-sampai Donghae selalu merasa ingin mengabadikannya. Entah sudah berapa banyak foto Sunye yang diambilnya selama tujuh tahun ini. Selama tujuh tahun ini juga, Donghae dan Sunye menjadi tak terpisahkan. Mungkin orang-orang akan melihat mereka seperti kakak beradik yang begitu dekat, atau paman dan keponakannya, atau mungkin ayah dan anak, yah semoga saja yang pertama.

Donghae tahu kalau perasaannya ini tidak baik. Dia sadar betul jika rasa cintanya ini tidak akan berbuah baik. Perbedaan usia yang tidak sedikit itu telah membuatnya menjadi seorang pesimis. Berkali-kali Donghae mencoba melupakan perasaan cintanya yang berbahaya itu kepada Sunye tetapi pada akhirnya keegoisannyalah yang menang. Akhirnya setelah tujuh tahun, Donghae menerima kenyataan bahwa dirinya memang seorang pedofil. Bukannya dia bangga akan hal itu, tapi itulah kenyataannya. Sunye membuatnya menjadi seorang pedofil.

“Hyung!”

Donghae menoleh ke asal suara, dia melihat Sungmin sedang berlari menghampirinya, ada anak laki-laki lain yang tidak Donghae kenal berlari di sampingnya. “Sungmin-ah, sedang apa kamu?”

Sungmin tersenyum kepada Donghae, lalu menjawab, “Aku sedang dalam perjalanan pulang Hyung, tapi aku melihatmu jadi kupikir tidak ada salahnya menyapa, hehe.” katanya ceria, sambil mengatur napasnya yang memburu sehabis berlari barusan.

Donghae tertawa melihat anak laki-laki di hadapannya ini. Sungmin juga sedikit banyak membantunya semakin dekat dengan Sunye, jadi Donghae sangat menyayanginya dan menganggapnya seperti adiknya sendiri. Donghae lalu mengelus rambut Sungmin dengan lembut, membuat Sungmin terkikik, Sungmin memang paling senang kalau rambutnya dielus begitu.

“Minnie, ayo cepat pulang, Ahjumma sudah menunggumu.”

Donghae menatap anak laki-laki yang bersama Sungmin tersebut. Kulitnya putih pucat, tubuhnya jangkung, dan tatapan matanya tajam dan lurus mendelik kepadanya. Apa-apaan anak ini? batin Donghae geli.

“Baiklah kalau begitu, Hae-hyung, kami permisi ya. Sampai ketemu! Ayo Kyu!” Sungmin pun pergi meninggalkannya. Donghae tidak lupa mengambil gambar Sungmin dan anak laki-laki yang bersamanya yang dipanggil Kyu itu. Ekspresi mereka saat tertawa kepada satu sama lain benar-benar membuat orang tahu bahwa mereka saling menyayangi. Donghae sangat senang jika dia berhasil menangkap ekspresi yang seperti itu, sebenarnya itu jugalah salah satu alasannya menjadi fotografer. Dia sangat senang melihat senyum di wajah orang lain.

Donghae pun melanjutkan acara jeprat-jepretnya, dia begitu asyik mengambil gambar langit yang begitu biru ketika lensa kameranya menangkap sesuatu. Seekor kupu-kupu. Kupu-kupu berwarna ungu yang sangat indah. Donghae buru-buru mendekatinya, berharap mendapatkan gambar yang indah dengan objek kupu-kupu tersebut. Tetapi sayang, sebelum Donghae mendapatkan gambar yang bagus kupu-kupu itu sudah terbang.

Donghae sedikit kecewa juga kehilangan kesempatan mengabadikan kupu-kupu secantik itu. Dia juga yang bodoh karena mendekatinya dengan terburu-buru, kupu-kupu itu pasti waspada akan kedatangannya. Tapi tiba-tiba wajah Sunye terbayang di pikirannya. Cinta itu… mungkin seperti kupu-kupu, ya. Akan pergi jika kita mendekatinya dengan terburu-buru. Dan Sunye adalah kupu-kupu langka, yang membuatnya terpesona, tetapi juga takut, takut jika sayap-sayapnya yang cantik hancur di tangannya. Donghae seorang lelaki dewasa sedangkan Sunye baru saja menginjak masa remajanya. Dia bisa dianggap penjahat jika memiliki perasaan terhadap Sunye, tapi tolong beritahu dia, bagaimana dia bisa berhenti mencintai Sunye jika seiring berjalannya waktu Sunye tumbuh menjadi wanita yang semakin luar biasa?

————

“Terima kasih banyak ya, Minkyung-unnie! Berkat kamu aku bisa membeli benda yang kuinginkan!” seru Sunye kepada Shin Minkyung, tetangganya yang pemilik toko bunga tempatnya bekerja, tapi mulai saat ini dia tidak bekerja lagi, karena dia targetnya telah tercapai. Sunye sengaja bantu-bantu di toko itu selama dua minggu untuk menambah uangnya, dia akan membeli sebuah kado ulang tahun untuk Donghae.

Ya, tanggal ulang tahun Donghae-lah yang dilingkari dengan bentuk hati di rumahnya. Sunye diam-diam menyimpan perasaan kepada Oppa yang sangat baik kepadanya itu. Perasaannya pada Donghae bukan hanya sebatas rasa kasih antar saudara, tapi lebih dari itu. Sunye melihat Donghae sebagai seorang laki-laki, bukan kakak laki-laki.

Sunye mencintai Donghae. Sunye tahu betul dia tidak pantas jatuh cinta pada laki-laki dewasa seperti Donghae, karena dia yakin Donghae hanya menganggapnya sebagai adiknya tidak lebih. Tapi Sunye hanya wanita biasa, wanita mana yang tidak jatuh hati jika diperlakukan seperti putri oleh seorang lelaki? Karena itulah, Sunye bertekad untuk menyatakan perasaannya kepada Donghae di hari ulang tahun Donghae nanti, apapun jawaban dari Donghae dia sudah siap menerimanya. Sunye lalu menatap kalender di toko bunga itu, besok adalah hari penentuannya, dia sudah janjian dengan Donghae untuk bertemu di taman tempat pertama kali mereka bertemu besok, semoga saja kisah cintanya berakhir dengan indah.

————

Donghae benar-benar tidak sabar, kenapa waktu begitu lama berlalu ketika dia sedang menanti sesuatu, sih?!

“Oppa, kamu kenapa sih, daritadi mondar-mandir kayak orang cacingan?”

Donghae mengacuhkan Saerim dan melanjutkan rutinitas mondar-mandirnya, membuat Saerim mengangkat alisnya. “Kamu ada kencan dengan anak itu ya. Oppa?” tanya Saerim lagi, kali ini ekspresinya tidak bisa ditebak, membuat Donghae berhenti mondar-mandir dan akhirnya duduk di samping adik perempuannya itu.

“Menurutmu hubungan Oppa dengan dia bagaimana, Saerim-ah?” tanya Donghae.

“Biasa saja, ya gitu deh.”

Donghae cemberut mendengar jawaban Saerim, “Apa itu, berikan jawaban yang membuatku puas dong!”

Saerim menatap Donghae sejenak, lalu menghela napas berat. “Oppa, usiamu itu 27 tahun, sedangkan dia 17 tahun. Perbedaan usia yang tidak sedikit kan? Kamu pasti tahu apa yang akan orang katakan tentang kalian, kan? Apa kamu siap? Apa kamu bisa melindungi dia?”

Donghae tersenyum menatap adiknya itu, walaupun menyebalkan Saerim memang sangat menyayanginya, dia bahkan memikirkan hal-hal seperti itu. “Oppa tidak peduli apa kata orang, asal kamu merestui kami. Bagaimana kami menurutmu?” tanya Donghae sambil mengelus rambut adik perempuannya itu dengan lembut.

“Menurutku kalian sangat serasi… aku ingin kamu bahagia Oppa, apapun keputusanmu aku akan mendukungnya asalkan itu membuatmu paling bahagia.”

Donghae tersenyum. “Terima kasih ya. Kalau begitu Oppa pergi dulu, ya. Doakan agar Oppa pulang dengan kabar baik!”

Saerim terus melambai sampai mobil Donghae tidak terlihat lagi. “Semoga berhasil, Oppa…”

————

Sunye datang 30 menit lebih awal dari waktu yang seharusnya. Dia menyesal karena lupa membawa mantelnya tadi, udara begitu dingin, angin sore di bulan Oktober begitu menusuk. Tetapi tiba-tiba tubuhnya diselimuti kehangatan, dan harum yang sangat dikenalnya. Sunye tidak kaget ketika dia menoleh dan melihat Donghae sedang tersenyum kepadanya, mantel Donghae sudah merangkul tubuhnya.

“Oppa, happy birthday…” seru Sunye lirih, suaranya jadi pelan dan bergetar karena hawa dingin. Dia menyerahkan kotak hadiah yang telah dia siapkan kepada Donghae, yang tentu saja diterima dengan senang hati oleh Donghae.

“Boleh kubuka?” tanya Donghae, senyum di bibirnya semakin lebar ketika dia melihat Sunye mengangguk. Dia pun segera membuka kotak hadiah itu, dan betapa kaget dia ketika mendapati sebuah kamera polaroid terbungkus rapih di dalamnya.

“Sunye-ah… ini…”

Sunye tersenyum. “Maaf ya, saat ini hanya itu yang terbeli dengan uangku… aku tahu Oppa ingin punya kamera polaroid, kan? Aemoga saja hadiahku membuatmu senang.” katanya, masih dengan suara pelan dan bergetar, tetapi kali ini dibarengi dengan wajahnya yang bersemu merah.

Donghae benar-benar kehilangan kata-katanya, dia terharu, sangat terharu. Harga kamera polaroid seperti ini sangatlah mahal, paling tidak bagi pelajar yang berasal dari keluarga sederhana seperti Sunye, tapi Sunye membelikan ini untuknya. Dia ingat dia pernah bilang ingin memiliki kamera polaroid, tapi dia tidak menyangka Sunye masih mengingatnya, bahkan menghadiahkannya. Sunye memang wanita yang benar-benar pantas untuk dicintai. “Sunye-ah, terima kasih banyak. Oppa sangat senang, terima kasih.”

Sunye mengangguk. “Aku juga suka kamera polaroid Oppa, karena mereka benar-benar menangkap keabadian. Kita bisa menyimpan semua hal di dalam gambar. Berbagai macam ekspresi, peristiwa, semuanya, tapi kamera polaroid berbeda. Meskipun film-nya bisa kita isi kembali, tetap saja kita akan merasa sayang jika menghabiskannya sesuka hati karena hasilnya tidak akan bisa kita hapus kan?”

Donghae menatap Sunye, sedikit tidak mengerti arah pembicaraan ini.

“Oppa, kamu adalah film-ku. Jika di dalam kamera polaroid ada sepuluh film, maka semuanya akan berisi fotomu. Bahkan jika hanya tersisa satu film pun, kamulah yang akan kujadikan objek. Kamu adalah satu film terakhir bagiku, Oppa…”

Donghae mengedipkan matanya. Matanya menatap lurus ke Sunye yang juga sedang menatapnya dengan tatapannya yang menenggelamkan. “Sunye-ah, kamu…”

“Aku mencintaimu, Oppa. Mungkin kamu hanya menganggapku anak kecil, anak bau kencur… tapi perasaanku padamu ini sungguhan, aku benar-benar mencintaimu… mungkin kamu menganggapku lancang karena berbicara seperti ini, juga tidak sopan, tidak tahu berterima kasih… tidak tahu diri, bodoh, terlalu banyak berkhay-mphh”

Hari itu adalah hari ulang tahun paling indah bagi Donghae. Dia menerima kamera polaroid pertama dalam hidupnya, dari wanita yang sangat dicintainya. Kamera polaroid berwarna biru laut ini akan menjadi harta karunnya yang paling berharga, tentu saja setelah Sunye.

“Sunye-ah, lihat kesini!”

klik!

Cahaya lampu kota dan juga penerangan dari rumah-rumah di sekitar taman membuat sosok Sunye terlihat sangat indah, ada warna ungu yang mengelilinginya. Senyum Sunye yang begitu cantik menambah pesona, mungkin inilah foto Sunye yang terindah dari semua yang pernah dia ambil. Donghae ingin terus mengambil gambarnya. Tapi ketika Donghae akan mengambil gambarnya lagi, tak ada blitz dan suara jepretan kamera yang terdengar. Dia lalu memerika kamera polaroidnya, dan tertawa begitu melihat semua film telah habis terpakai.

“Oppa, kamu kenapa?” tanya Sunye dari kejauhan, bingung melihat Donghae yang tiba-tiba tertawa. Tapi Donghae hanya menggeleng dan terus tertawa.

Donghae melihat lima belas lembar hasil jepretan kamera polaroidnya, semuanya foto Sunye, candid, kecuali yang terakhir. Kupu-kupu langka yang dilihatnya saat itu, mungkinkah pertanda akan datangnya hari ini?

Donghae tersenyum lagi. Tanpa dia sadari, Sunye telah menjadi satu film terakhir baginya sejak lama. Walaupun ada banyak hal yang indah di luar sana, dia akan tetap berlari mencari Sunye untuk mengambil gambar yang paling indah, karena Sunye adalah objeknya yang tercantik. Lagipula bibir Sunye terasa sangat lembut, secantik orangnya… ahh hentikan Lee Donghae! Hahaha, selain pedofil sekarang aku pun mesum, batin Donghae sambil terkikik.

Cinta ini mungkin membutuhkan waktu yang lama, tapi semua itu terbayar sudah. Jika kamu bisa selamanya menjadi satu film terakhir bagiku, dan juga pendamping dalam hidupku, aku tak peduli apapun kata orang, cinta kita adalah fenomena terindah yang pernah kutangkap dalam lensaku. Sunye-ah, aku mencintaimu, kamu adalah kupu-kupu langka yang kutemukan, juga satu film terakhir bagiku.

THE END

————

So…. how’s that? Hey Aini Chul ini adalah request darimu, tolong berikan tanggapan yang jujur mengenai kehancuran cerita ini. Sequel ini gue bikin tanpa plot dan tanpa berpikir, ahhhhhhhhh tauk ah! Pokoknya many many kamsah buat yang udah baca apalagi ngomen… 🙂

_Saeriminnie_

8 Komentar (+add yours?)

  1. rawr
    Jul 10, 2011 @ 03:02:27

    Lanjutan waktu itu ya???
    Aaaaaa unyunyaaaa xD

    Nice ff!
    Ayo bikin SunHae yg banyak lagi xD

    Balas

  2. aini_CHUL
    Jul 10, 2011 @ 14:35:17

    sis gw suka banget banget sis ahhhhh sial gw bisa gila ngayalin mereka nikah. LOVE YOUR JOB. Thankssssss sis.hwaiting and keep ur great story 😀

    Balas

  3. puchaabyzone
    Jul 15, 2011 @ 09:35:59

    halo halo author.!!!!sunhae shipper datang lagi *datang tak di jemput pulang minta ongkos hahaha

    kyaaaaaaaaa authorrrrr…….*teriak pake toa dari masjid nabawi..

    huaaaaaaaaaaaa suka banget…banget..banget..!!!!
    ayo onnie author buat lanjutannya lagi sampe mereka punya cucu yah *authornya pingsan —> reader : biarin ajah..habisnya ceritanya DAEBAK..!!!! #kaburrrrrrrr

    hahaha akhirnya ikan makpo jadian juga sm sunye..walo kliatannya jd kyk pedofil kkkkkk

    huaaaaaa ni author makan apa sieh???kalo bikin ff keren2 bgt…

    pokoknya suka semua ep ep disini..

    gomawo
    _bow_

    Balas

  4. cagalli14
    Okt 16, 2011 @ 06:09:08

    bagus kok ^^
    ahaha tp gak nyangka usianya dibuat jauh beda banget …aku jd malah membayangkan sunye-nya sulli karena aku jg ngeship ssulhae tp itu couple yg mustahil jd kalo ditanya maunya donghae nikah sama siapa pasti sm sunye. sunhae ayo nikah!!! lol!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: