Cherry blossom that blooms in my heart [SunHae Fic]


Title : Cherry blossom that blooms in my heart

Pairing : SunHae (Donghae & Sunye)

Genre : AU, Angst, Fantasy, Romance

Rating : PG

Summary : Cinta kita begitu indah, seindah bunga sakura yang mekar dalam hatiku…

Warning : Kalo nggak suka pasangan satu ini jangan baca. Stop bashing if you’re smart people! Thx.

————————

Sunye tersenyum menatap hasil pekerjaannya. Dia lalu membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang. “Semuanya, hari ini cukup sampai disini. Kalian boleh pulang setelah membereskan pekerjaan kalian, ya.”

Semua murid yang berada di ruangan itu bersorak sorai mendengar perkataan Ketua Panitia mereka itu barusan, setelah lelah seharian mengurusi acara perpisahan sekolah di hari libur, akhirnya datang juga waktu istirahat.

“Terima kasih banyak!” seru mereka serempak. Sunye tersenyum melihat teman-temannya begitu senang. Dia tahu mereka memang lelah, tapi mau bagaimana lagi, siapa lagi yang akan menyiapkan acara ini kalau bukan mereka? Toh mereka jugalah yang akan menikmatinya nanti.

“Baiklah kalau begitu aku duluan. Yeeunnie, hari ini tugasmu untuk mengunci pintu, kan?” anak perempuan yang dipanggil Yeeunnie itu mengangguk, Sunye lalu melanjutkan, “Jangan lupa besok datang lebih awal, karena kami tidak akan bisa masuk kalau kamu kesiangan. Oke?”

Melihat Yeeun mengangguk, Sunye tersenyum lalu meninggalkan kelas setelah mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya.

Min Sunye adalah seorang sisiwi kelas akhir di SMA Hwagohk. Dia juga ketua komite siswa di sekolahnya, tetapi dia sudah digantikan sejak dia memulai tahun terakhirnya sebagai siswi SMA. Dia adalah seorang perempuan yang cantik, rupa maupun hatinya. Meskipun banyak anak perempuan di sekolah mereka yang jauh lebih cantik darinya, Sunye tetaplah cantik dan menarik dengan caranya sendiri. Sunye juga bertanggung jawab dan pandai memimpin, karena itu meskipun dia perempuan, dia terpilih menjadi ketua komite siswa, semua murid menghormati kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan, dia adalah seorang pemimpin yang adil dan berwibawa, tetapi juga rendah hati. Sunye juga cerdas dan memiliki banyak keahlian, dia pandai menyanyi, memasak, dan masih banyak lagi. Karena itu dia begitu populer dan disayangi oleh teman-teman dan juniornya di sekolah.

Kali ini, Sunye disibukkan oleh tugasnya sebagai ketua panitia acara perpisahan sekolahnya. Dia sangat senang diberi kepercayaan untuk mengetuai acara besar lagi setelah turun jabatan, dia rindu masa-masa sibuknya ketika masih menjadi ketua komite dulu. Dia juga senang karena semua yang terpilih menjadi panitia bersamanya adalah orang-orang yang pekerja keras dan bersungguh-sungguh. Dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan mensukseskan acara ini!

Sunye jadi tersenyum sendiri membayangkan proyek acara perpisahan yang sedang mereka kerjakan, semoga acara itu akan menjadi kenangan terindah baginya dan teman-teman seangkatannya nanti, dia dan semuanya akan berusaha keras agar semua orang yang datang merasa puas dan bahagia malam itu.

Ketika sedang asyik tenggelam dalam pikirannya seperti itu, tiba-tiba sesuatu yang ringan jatuh ke pipinya. Sunye langsung mengambil sesuatu yang menempel di pipinya itu, “Kelopak bunga…”

Kelopak bunga kecil berwarna merah muda, meskipun hanya satu buah tetapi sangat cantik. Ini kelopak bunga apa, ya? Batin Sunye penasaran.

“Itu kelopak bunga sakura.”

Sunye mendongak, dan hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang mata berwarna cokelat yang begitu indah. Bola mata yang begitu bening, tatapan mata yang begitu sendu sampai-sampai hatinya terasa perih memandang sepasang mata itu. Ada harum yang sangat memikat masuk ke hidungnya.

“Kelopak bunga itu berasal dari pohon sakura itu.”

Sunye bahkan baru menyadari kalau suara pemilik sepasang bola mata indah ini pun begitu indah. Dia lalu melihat arah pohon sakura yang ditunjuk oleh lelaki itu, dan betapa terkejut dia melihat sebuah pohon besar terpinggir di atas tanah, di sebelahnya sebuah traktor sedang berusaha meratakan tanah, yang dia yakin sebelumnya adalah tempat pohon sakura tersebut hidup.

“Jadi pohon sakura itu…”

Lelaki itu mengangguk, ada seulas senyum tipis di bibirnya. Sunye merasakan kepedihan yang amat sangat dari senyum itu karena hatinya bergetar ketika melihatnya. “Mereka membunuhnya. Tapi mungkin lebih baik begitu, pohon itu sudah terlalu lama kesepian karena semua temannya telah pergi meninggalkannya satu-persatu. Mungkin memang sudah saatnya dia hilang…”

Sunye merasa ada sesuatu yang lain dalam penjelasannya, seperti ada makna lain dari kata-katanya barusan. Tapi sebelum Sunye sempat menjawab, lelaki itu sudah pergi berjalan meninggalkannya. Meninggalkannya bertanya-tanya, dengan kelopak bunga sakura tergenggam di tangan kanannya.

————————

Lima hari telah berlalu sejak pertemuan Sunye dengan lelaki misterius itu, tetapi sepasang mata indah itu tidak pernah berhenti menghantui pikirannya. Dia bahkan menjadikan kelopak bunga sakura itu sebagai pembatas buku agar bisa disimpan dengan baik, toh kelopak itu memang sangatlah indah.

“Sun-sunbae, aku sudah mengecek semua divisi dan pekerjaan mereka semua beres.”

Sunye lalu menatap Saerim, juniornya yang juga panitia acara perpisahan. Meskipun otaknya dipenuhi oleh seorang lelaki misterius, seorang Sunye tetaplah Sunye, seorang yang bertanggung jawab akan pekerjaannya. Selama lima hari ini, tidak terasa persiapan perpisahan telah sampai pada tahap akhir. Dia tersenyum pada juniornya itu, “Terima kasih banyak ya, kalau begitu tolong sampaikan pada semua pengisi acara untuk datang melakukan gladi resik besok, ya.” Katanya, Saerim lalu mengangguk, dan pamit pergi.

Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, Sunye lalu berjalan meninggalkan sekolah, menuju ke halte bis untuk pulang.

Sunye sedang berjalan sambil berdebat mengenai haruskah dia mampir ke pasar swalayan dulu untuk membeli sabun mengingat sabun di rumahnya telah habis, atau tidak, ketika dia merasakan sesuatu jatuh di pipinya, lagi. Jantungnya berdegup kencang, entah mengapa, dia kenal betul kejadian ini. Tangannya lalu bergerak ke pipinya, matanya membesar ketika melihat sesuatu yang kini ada di tangannya, “Kelopak bunga sakura…” bisiknya.

“Ternyata kamu ingat.”

Sunye membalikkan badannya, dan disanalah dia berdiri. Lelaki misterius yang selama ini menghantui pikirannya. Hari ini pun sosoknya begitu indah, batin Sunye.

“Ini kedua kalinya kita bertemu, ya. Namaku Donghae, aku seorang roh pohon. Kamu?”

Untuk sesaat Sunye tidak dapat berkata-kata, otaknya sibuk mencerna kata-kata lelaki di hadapannya ini sebelum akhirnya dia sadar kalau lelaki itu menanyakan namanya. “Namaku Sunye, Min Sunye…” Sunye sama sekali melupakan sesuatu dari kalimat perkenalan Donghae barusan.

Donghae lalu tersenyum kepada Sunye, senyum yang begitu indah sampai-sampai rasanya Sunye lupa cara bernapas. Tetapi akhirnya dia ikut tersenyum, ada perasaan yang aneh yang mulai bergerak dalam dirinya.

Sejak saat itu, Sunye dan Donghae selalu bertemu di tempat yang sama sepulangnya Sunye dari sekolah. Meskipun mereka tidak saling berjanji untuk bertemu, tetapi ketika melihat satu sama lain, mereka akan mengobrol dengan sendirinya. Membicarakan banyak hal. Selama tiga hari ini mengenal Donghae, Sunye mengetahui kalau Donghae sangat menyukai semua yang berhubungan dengan tanaman, terutama bunga, apalagi bunga sakura. Dan Sunye tidak menemukan hal itu aneh seorang cowok menyukai bunga, justru menurutnya Donghae sangat manis, seseorang yang menyayangi bunga pastilah memiliki hati yang cantik. Sunye juga tahu kalau Donghae menyukai matahari dan hujan, “Kalau tak ada mereka aku tak akan bias hidup.” Kata Donghae saat Sunye menanyakan alasannya. Benar juga sih, semua mahkluk hidup membutuhkan matahari dan hujan, batin Sunye.

Donghae tidak punya orang tua, juga sanak saudara, Donghae bilang dia tinggal sendirian karena itu dia sangat kesepian. Awalnya Sunye sempat merasa senasib dengan Donghae, tapi ternyata dia jauh lebih beruntung. Karena meskipun dia tak lagi memiliki orang tua, masih ada nenek dan adik angkatnya, Jokwon, yang hidup bersamanya, memberikan kasih sayang sebuah keluarga, karena itu dia tidak pernah merasa kesepian. Tapi Donghae… dia bilang semua yang disayanginya pergi meninggalkannya, dia tidak memiliki keluarga lagi, juga teman, hanya tinggal dia seorang diri. Entah seberapa kesepian dirinya hidup seorang diri seperti itu.

Sunye pernah bertanya kepada Donghae, “Kenapa kamu tidak ikut pergi bersama keluarga dan teman-temanmu?”. Dia tidak akan melupakan sorot mata Donghae ketika menjawab pertanyaannya itu sampai kapanpun. Sorot mata yang menyimpan sebuah duka besar, Sunye merasa bersalah karena memikirkan keegoisannya dan menyakiti Donghae. Tapi Donghae tersenyum padanya, “Aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang kucintai disini…” jawabnya, sambil menatap Sunye dengan tatapan yang tak bisa Sunye gambarkan dengan kata-kata. Tatapan yang membuat wajahnya terasa panas, membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Perasaan apa ini? Batinnya resah.

————————

Hari ini genap enam hari sejak pertemuan kedua Sunye dan Donghae. Sunye jadi menanti-nanti pertemuan mereka, dia bahkan lebih menantikan pertemuannya dengan Donghae dibandingkan dengan acara perpisahan sekolahnya yang akan berlangsung besok.

Sunye segera meninggalkan sekolahnya setelah memastikan kalau semua persiapan telah siap dan acara besok akan berlangsung dengan sempurna. Dengan bersemangat dia berjalan menuju ke tempat pertemuannya dengan Donghae. Tidak ada siapapun disana, di taman kecil tempat pertemuan mereka, ketika dia sampai. Mungkin Donghae sedikit terlambat, pikirnya. Tapi rupanya Sunye salah. Donghae sudah benar-benar terlambat, sudah tiga jam dia menunggu tetapi Donghae tidak kunjung datang. Sunye takut dan khawatir. Bagaimana jadinya kalau dia tidak akan bertemu dengan Donghae lagi? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Donghae dan dia tidak tahu? Segala macam pikiran negatif mulai memenuhi otaknya, dia panik.

Sunye memutuskan untuk menunggu selama satu jam lagi, mungkin Donghae ada urusan, dia harus menunggu siapa tahu Donghae akan datang. Akhirnya empat jam berlalu, Donghae tidak pernah datang. Sunye, yang tidak ingin membuat orang rumahnya khawatir karena terlambat sampai rumah akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi ketika dia berjalan menuju rumahnya, matanya menangkap sesuatu. Pohon sakura besar yang terpinggir di tanah itu sudah tidak ada, begitu juga traktornya. Tanah itu sekarang sudah rata, siap untuk dipakai membangun entah apa- rencana walikotanya. Sunye mendekati tempat bekas pohon sakura tersebut, ada beberapa kelopak bunga terjatuh disitu. Sunye mengumpulkan semua kelopak itu di tangan kanannya.

“Hei, sedang apa kamu disitu?”

Sunye menutup matanya dari sinar lampu senter yang menyorotinya. Ada dua orang laki-laki berseragam mendekatinya, sepertinya pekerja yang bertugas membangun disini.

“Sedang apa anak sekolah sepertimu disini malam-malam begini?” Tanya salah seorang petugas tersebut.

“Aku…” Sunye kebingungan menjawabnya, tetapi kemudian dia mengingat sesuatu. “Apa anda tahu dimana pohon sakura besar yang ada disini? Kemana kalian memindahkannya?” Tanya Sunye. Dua orang pekerja itu lalu memberitahu Sunye kalau mereka memindahkan pohon sakura itu ke tempat pembuangan sampah kota. Sunye lalu berlari kesana tanpa pikir panjang. Dia tidak peduli hari sudah malam dan mungkin berbahaya baginya berkeliaran di jam begini, tapi ada kalimat pekerja yang ditemuinya tadi yang membuatnya merasa sangat bodoh selama ini.

“Kami membakarnya dan akan membuangnya ke laut, sama seperti yang kami lakukan terhadap semua pohon sakura yang telah ditebang sebelumnya.”

Mungkin lebih baik begitu, pohon itu sudah terlalu lama kesepian karena semua temannya telah pergi meninggalkannya satu-persatu…

Aku seorang roh pohon.

Kalau tak ada mereka aku tak akan bisa hidup…

Tiba-tiba dia teringat semua kata-kata Donghae. Juga alas an kenapa selalu ada kelopak bunga sakura yang jatuh begitu Donghae muncul, juga harum tubuhnya yang khas. Sunye bodoh! Kenapa selama ini kamu tidak sadar? Selama ini Donghae selalu memberinya petunjuk, tapi dia terlalu lamban untuk menyadari semuanya. Semoga saja belum terlambat…

Ketika Sunye tiba di tempat pembuangan sampah yang dimaksud, matanya langsung mencari pohon sakura itu, mencari Donghae. Dia langsung berlari menghampiri pohon itu begitu melihatnya.

Sunye menjulurkan tangannya untuk menyentuh pohon sakura yang kini sudah tak pantas dipandang lagi itu, pohon itu sudah hancur, tak berbentuk. Batangnya yang seharusnya berwarna cokelat, kini hitam legam. Tercium bau busuk, bau arang dari sekitarnya. Sunye menangis, menangisi kebodohannya, menangisi cintanya yang kini telah layu, bahkan sebelum mekar. Ya, dia mencintai Donghae. Benar kata orang, kita baru sadar apa yang berarti bagi kita ketika kita kehilangan.

“Donghae… Hae… apa kamu mendengarku?”

Hanya suara hembusan angin dan serangga-serangga kecil di sekitarnya yang menjawab pertanyaan Sunye, tapi dia tetap melanjutkan. “Donghae, dengar… maafkan aku karena tidak mempercayai kata-katamu bahwa kamu adalah seorang roh pohon… aku lupa, juga tidak percaya kalau hal seperti itu benar-benar ada…” kata Sunye, suaranya parau karena terlalu banyak menangis, juga angin malam yang menusuk.

“Maafkan aku… aku tidak mengerti seberapa kesepian kamu, maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa… maaf… karena aku terlambat menyadari cinta ini…” Sunye terus menangis. Hatinya sakit, sangat pedih, Sunye tidak pernah tahu mencintai seseorang bisa begini menyakitkan rasanya.

“Aku mencintaimu, Donghae…”

Malam itu, Sunye baru memutuskan untuk pulang ketika dia teringat acara perpisahan sekolahnya besok. Apapun yang terjadi, dia tidak boleh mementingkan kepentingannya sendiri dan melepas tanggung jawab sebagai ketua panitia. Akhirnya Sunye pulang dengan hati gundah. Menikmati saat-saat patah hati pertama dalam hidupnya.

———————— 

Waktu dimulainya acara perpisahan pun tiba. Sunye senang melihat teman-temannya begitu bahagia berpesta. Dia tersenyum kepada semua orang yang berterima kasih padanya karena kerja kerasnya menyusun acara ini, kerja keras dia dan semua panitia tidak sia-sia jika melihat senyum di wajah semua orang yang datang.

Acara berjalan lancar, Sunye pun bisa melupakan patah hatinya sejenak karena kesibukannya, tapi tiba-tiba seorang juniornya mendekatinya, membawa kabar buruk, “Sun-sunbae, anak yang membawa bola kejutan yang akan kita pakai untuk membuka puncak acara belum juga tiba! Apa yang harus kita lakukan sekarang?” kata Ryeowook, wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa.

Sunye langsung pucat mendengarnya. Tidak, dia ingin acara ini sempurna, hal seperti itu tidak akan dia biarkan merusak semua kerja keras mereka. “Kenapa dia belum tiba? Apa mungkin terjebak macet?” Tanya Sunye, berusaha terdengar tenang. Sebagai seorang pemimpin, dia tidak boleh terlihat lemah di depan bawahannya.

“Mungkin saja, tapi teleponnya juga tertinggal karena tadi dia terburu-buru. Bagaimana ini, Sun-sunbae?” Ryeowook benar-benar panik, matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Sunye lalu menepuk pundaknya, tersenyum, “Tenanglah, aku akan mencari cara. Jangan beritahu siapapun tentang hal ini, ya. Kamu tunggulah telepon dariku.” Begitu Ryeowook mengangguk, Sunye langsung melesat keluar dari aula tempat acara berlangsung.

Sial. Kalau begini apa yang sebaiknya dia lakukan? Dia memang bilang akan menemukan cara, tapi bagaimana caranya menemukan jalan keluar yang belum pasti keberadaannya? Kali ini Sunye benar-benar dalam masalah besar.

Sunye melihat jam di tangannya, lalu menghela napas berat. Tidak akan ada toko yang buka di dekat sini jam segini… ditambah lagi, waktuku hanya lima menit…” Selama lima menit yang tersisa itu, Sunye mencoba segala cara, menghubungi semua toko serba ada yang kira-kira menjual pernak-pernik atau apapun yang bias dipakainya untuk menggantikan bola kejutan yang sudah mereka siapkan. Dia juga berkali-kali menghubungi Ryeowook, menanyakan apakah anak yang membawa bola kejutan itu sudah tiba atau belum. Dan waktu berlalu sangat cepat, lima menit terasa seperti lima detik ketika Sunye sedang gelisah.

Sunye kembali ke aula dengan lemas, dia panik begitu melihat Saerim naik ke atas panggung. Gawat! Dia lupa Ryeowook tidak mengatakan kepada siapapun mengenai masalah bola kejutan itu, dan sekarang Saerim pastilah akan mulai mengajak semua murid untuk menghitung mundur…

“Kita hitung sama-sama ya… 3… 2…”

Sunye berlari sekuat tenaga mendekati panggung, dia tidak peduli semua temannya memandanginya aneh, Saerim bisa malu kalau ketika selesai menghitung, tidak ada apapun yang terjadi, tidak ada kejutan apapun.

“…1..! Semuanya lihat ke atas!” teriak Saerim bersemangat.

Langkah Sunye terhenti. Dia khawatir, pandangan matanya menatap teman-temannya yang langsung melihat langit-langit, menantikan sesuatu, juga Saerim di atas panggung, tidak tahu-menahu mengenai kabar buruk yang terjadi. Beberapa saat berlalu, para murid mulai mempertanyakan kejutan yang dimaksud. Mata Saerim menemukanmu di tengah-tengah lautan manusia, menatapku bertanya, dia juga mulai gelisah. Tetapi semua aktivitas di aula terhenti ketika tercium harum yang begitu memikat, wangi yang begitu kukenal.

Ketika merasakan sesuatu mendarat di pipinya, Sunye buru-buru mendongakkan kepalanya ke atas. Dari langit-langit, ada begitu banyak kelopak bunga sakura berjatuhan. Ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan kelopak bunga sakura menghujani aula tempatnya berdiri.

Sunye membatu. Dia tidak bereaksi ketika Ryeowook memeluknya dan memujinya karena jalan keluarnya bahkan lebih hebat dari bola kejutan mereka. Dia juga mengacuhkan ucapan terima kasih teman-temannya yang berkata bunga sakura ini sungguh indah. Sunye tidak peduli lagi dengan semua itu, hanya satu yang ada dalam pikirannya saat itu, Donghae…

Ketika Sunye kembali dari lamunannya, dia buru-buru keluar dari aula. Dia berlari kesana-kemari sambil meneriakkan nama orang yang dicintainya, “Donghae!”

“Donghae, kamu dimana?”

Tapi lagi-lagi kesunyian yang menyambut Sunye. Sunye lalu terjatuh, dia tidak peduli dia mengotori gaunnya yang cantik, dia tidak peduli acara perpisahan sekolahnya masih berlangsung, “Tolong biarkan aku menyampaikan perasaanku padamu, Donghae…” dan Sunye menangis, menangis sejadi-jadinya. Dia baru berhenti ketika mendengar suara indah itu, suara lembut yang begitu dirindukannya.

“Jangan menangis, Sunye-ah.”

Tangis Sunye justru pecah menjadi jauh lebih deras ketika dia melihat Donghae berdiri di hadapannya. Donghae yang dia cintai, yang dia kira tak akan pernah dilihatnya lagi, kini sedang tersenyum kepadanya. Terlihat tidak berbeda dengan saat terakhir mereka bertemu. Sunye langsung menghampiri dan memeluknya, yang disambut dengan senang hati oleh Donghae.

“Aku mencintaimu, Hae-ah…”

Donghae tersenyum pahit mendengarnya. “Maafkan aku Sunye-ah, tapi aku juga mencintaimu…”

Sunye menatap Donghae bertanya, kenapa dia meminta maaf jika dia juga mencintaiku, itulah pertanyaan yang tersorot dari tatapan matanya.

“Dengarkan aku, ya. Kamu dilarang bicara sampai aku selesai.” Melihat Sunye mengangguk, Donghae lalu melanjutkan. “Aku adalah roh pohon sakura besar yang ditebang itu, kamu tahu kan? Selama ratusan tahun, aku menyaksikan satu-persatu teman-temanku pergi, kamu tidak akan tahu seberapa kesepian diriku…”

Sunye memeluk Donghae semakin erat mendengar pengakuannya barusan, air matanya lagi-lagi jatuh tanpa dia sadari.

“Tapi berkat kamu, rasa kesepianku perlahan-lahan hilang.” Sunye menatap Donghae lagi, menanyakan apa maksud kalimatnya barusan. Donghae tertawa kecil melihat ekspresi wajah Sunye yang lucu ketika penasaran sebelum melanjutkan ceritanya.

“Kamu pasti tidak ingat, dulu saat kamu kecil, kamu sering bermain petak umpet bersama adikmu, dan kamu selalu bersembunyi di belakangku. Adikmu tidak pernah menemukanmu sampai akhirnya kamu lelah menunggu dan tertidur.”

Sunye terkejut mendengarnya. Dia ingat. Dia tidak akan pernah lupa. Dulu saat masih di sekolah dasar Sunye memang sangat sering bermain disana, dan memang selalu ketiduran karena berada di bawah pohon sakura itu sangat nyaman. Dan saat Sunye bangun, selalu ada mahkota yang terbuat dari bunga sakura di kepalanya, selalu seperti itu. Jadi Donghae-lah yang melakukannya.

“Tanpa kamu sadari, kamu menemani aku dan membuatku senang, aku tidak lagi merasa kesepian. Sejak hari itu, meskipun kamu telah lama berhenti mengunjungiku, aku selalu menantikan saat-saat kamu akan lewat di depanku, saat-saat aku bisa melihatmu walau hanya sebentar…”

Sunye membuka mulutnya untuk bicara, tetapi Donghae mengisyaratkan kepadanya untuk tetap diam dan mendengarkan, dia pun melakukannya. “Aku tahu perasaanku ini mustahil, tetapi aku sangat senang saat kamu bicara denganku waktu itu! Saat-saat bersamamu sungguh menyenangkan, aku tidak akan pernah melupakannya. Aku mencintaimu, Sunye-ah.” Donghae mengucapkannya dengan lembut, tatapan matanya meneriakkan cinta, pelukan hangatnya menjanjikan kasih sayang, membuat Sunye tenggelam akan pengakuannya.

“Apa kamu suka dengan kejutanku di aula tadi?” Tanya Donghae tiba-tiba. Sunye, yang terlalu terharu untuk berkata-kata hanya mengangguk dan memandang Donghae dengan penuh rasa terima kasih. Tetapi senyum di bibirnya lenyap ketika mendengar kata-kata Donghae selanjutnya. “Itu adalah sakura terakhir yang bisa kumekarkan. Kelopak-kelopak itu adalah bunga terakhir dari pohonku yang kusimpan sebelum mereka membakarnya kemarin.”

Donghae lalu menatap Sunye dengan tatapan yang sama saat mereka pertama kali bertemu. Sorot mata yang menyimpan luka mendalam, begitu pedih sampai membuat Sunye merasa tercekik. “Terakhir…?” bisik Sunye lirih.

Donghae mengangguk, dia melepaskan Sunye dari pelukannya, lalu menatap mata Sunye lekat-lekat. “Maafkan aku, karena mencintaimu… dan membuatmu mencintaiku, juga…” bisiknya. Wajah mereka semakin dekat, Sunye memejamkan matanya ketika merasakan bibir Donghae mendarat dengan lembut di bibirnya. Tetapi sentuhan yang membuatnya merinding itu terhenti begitu cepat, dan ketika Sunye membuka matanya, Donghae tidak ada di manapun.

Ada kelopak bunga sakura yang jatuh ke tangannya. Sunye menangis lagi, kelopak bunga sakura yang hanya satu buah ini seakan-akan sedang mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Malam itu, Sunye mendapatkan ciuman pertamanya. Tetapi sebagai gantinya, dia harus kehilangan cinta pertama dalam hidupnya. Tetapi Sunye tersenyum. Meskipun air mata turun begitu deras tanpa henti dari matanya, dia merasa bahagia karena perasaannya tersampaikan, bahkan terbalas. Meskipun menyakitkan, dia merasa bahagia dengan cinta ini. Cinta yang begitu indah, yang akan selalu dia kenang sepanjang sisa hidupnya. Suatu saat nanti, mereka pasti akan bertemu lagi. Dan Sunye yakin, jika saat itu tiba, Donghae akan memekarkan lagi bunga sakura di hatinya.

————————

Ini adalah oneshot terpanjang dari semua yang pernah gue bikin. Dan ini juga adalah fanfic pertama gue yang bergenre Fantasy. Apakah nuansanya terasa? hmm semoga iya. Gue juga kangen pengen nulis fanfic sunhae yang angst, dan inilah dia hasilnya huahaha. Mungkin ini adalah fanfic terakhir gue sampe bulan Agustus ke depan? mungkin, gue berencana hiatus soalnya. Yaudalah, makasih yang udah sudi baca, apalagi ngomen. Bye~

_Saeriminnie_

14 Komentar (+add yours?)

  1. rawr
    Jun 30, 2011 @ 05:28:02

    First? Yeay! ^^
    Aaaa onnie, ini kereeen bangeeett…
    Feelnya dapet, sampe nyesek sendiri aku bacanya ;__;

    Onnie mau hiatus?
    Jangan lama-lama!
    Ntar kangen FFnya …. TToTT

    Balas

  2. rawr
    Jul 01, 2011 @ 00:07:10

    Ih beneran bakal kangen! xD
    Xixixi

    Balas

  3. aini_CHUL
    Jul 01, 2011 @ 06:27:10

    wow. sis when u told me that you wated to write fantasy fanfic, i couldn’t even imagine but ternyata seru jugaaaa!!!
    cool, keren2 and still so sweet and romantic!!
    nothing i can say. i adore you mwah ❤

    Balas

  4. Aku
    Jul 01, 2011 @ 10:51:22

    woowww!!!ceritanya bagus banget.jadi nangis deh bacanya.hix.hix
    Suka banget sama couple ini.I’m SunHae shipper.hahahahha.
    bikin fanfict tentang SunHae yang banyak yaa!!!

    Balas

  5. Yoon Sae-Ra
    Agu 17, 2011 @ 01:12:27

    omo jadi Donghae siluman pohon ya *aiiihh bahasanya #plakkplakk
    huaaaaa sedih ;(
    trus nasib sunye gimana dong??

    Balas

  6. chagyumin
    Nov 21, 2011 @ 08:20:51

    nyesek bgt sunye.
    T_T

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: