One Moment In Time [SunHae Fic]


Title : One Moment In Time

Pairing : SunHae [Donghae & Sunye]

Genre : AU, Fluff

Rating : G

Summary : Keabadian yang sesaat, begitu indah sampai aku ingin menyimpannya ke dalam gambar…

A/N : Abis nonton MV Ice Cream-nya JOO Feat. Eeteuk! Aaaaah berkali-kali nonton itu tetep aja cute dan nggak pernah bosen!!! (>///<) Tiba-tiba terpikir untuk bikin cerita ini! Entahlah, jangan mengharap yang bagus-bagus ya soalnya cerita gue ya seperti biasa, JELEK…

Warning : Kalo nggak suka pasangan satu ini JANGAN BACA. Stop bashing if you’re smart people! Thx.

———–—————

“Sun, ingat, tunggu aku disini, jangan kemana-mana.”

Sunye kecil tersenyum dan mengangguk pada neneknya. “Baik, Sun mengerti Halmeoni.” jawabnya patuh. Neneknya pun tersenyum, cucunya ini memang anak yang benar-benar patuh.

Setelah neneknya pergi, Sunye lalu memandang ke sekelilingnya. Dia tersenyum melihat begitu banyak orang di taman. Sunye selalu senang menemani neneknya berbelanja. Meskipun baru berusia 10 tahun, Sunye sudah senang mengurusi pekerjaan rumah tangga. Dengan melihat neneknya, dia jadi belajar bagaimana caranya memilih barang, menawar, juga mengetahui tempat-tempat yang murah dan berkualitas. Dia bertekad kalau suatu harti nanti dialah yang akan melakukan semua itu sendirian, neneknya cukup menunggu di rumah saja dan bersantai. “Hihihi.” dia selalu terkikik jika membayangkan hal seperti itu, walaupun belum terjadi entah kenapa membayangkannya saja sudah membuatnya bangga.

Hari ini, dia ikut neneknya belanja lagi. Neneknya menyuruhnya menunggu di taman di depan pasar swalayan karena dia ingin membeli bahan yang lupa terbeli. Terlalu berbahaya jika Sunye ikut masuk lagi karena akan ada diskon besar-besaran, bisa-bisa Sunye tertelan lautan manusia. Karena itu, Sunye diminta neneknya menunggu di taman saja. Dan karena Sunye memang anak yang penurut, tentu saja dia tidak mengeluh.

Sunye sedang asyik memperhatikan burung-burung merpati yang sedang sibuk memakan jagung ketika dia mendengar suara tangisan.Dia lalu menoleh ke asal suara. Ada seorang anak laki-laki, eh atau perempuan? Wajahnya sangat imut sampai-sampai Sunye juga bingung dia laki-laki atau perempuan. Ditambah lagi dia memakai baju berwarna pink. Menjadi seorang anak yang begitu dewasa, tentu saja Sunye mendekati anak itu.

“Hei adik manis, kenapa menangis? Siapa namamu?” tanya Sunye, memegang bahu anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu pun diam sebentar, tangisannya sedikit mereda, “Sh-shung…min…” katanya sesengukan.

Sunye tersenyum. “Jadi namamu Sungminnie, ya? Umur Sungminnie berapa?”

“Yima… chaun…” jawab anak laki-laki yang bernama Sungmin tersebut. Sunye lalu mengelus-elus kepalanya dengan lembut. “Kenapa kamu menangis? Kamu kehilangan Umma-mu?” tanya Sunye lagi, sambil mengajak Sungmin ke tempat dia duduk tadi agar mereka bisa duduk.

Mendengar pertanyaan Sunye barusan, tangis Sungmin pecah lagi. “Esh kelim… Shungminnie… mau… uang… hiyang… chidak chukup…” serunya di tengah tangisannya.Sunye sedikit panik ketika mengerti arah permasalahannya. Sungmin pastilah ingin membeli es krim tetapi uangnya hilang jatuh entah dimana jadi akhirnya uangnya tidak cukup. Bagaimana ini? Dia sudah menolong setengah jalan, tapi dia tidak punya uang untuk membelikan es krim untuk Sungmin… pikir Sunye bingung.

Di tengah kebingungan Sunye itu, tiba-tiba dua buah es krim muncul di depan mata mereka. “Kalau mau, kalian boleh memakannya.” seru sebuah suara.

————————–

Donghae adalah seorang mahasiswa seni sekaligus fotografer cadangan di sebuah majalah yang sedang kebingungan karena tak kunjung menemukan objek yang bagus untuk fotonya. Dia sedang bersantai di atas pohon di taman kota ketika mendengar suara seseorang tak jauh dari pohon tempatnya duduk.

“Sun, ingat, tunggu aku disini, jangan kemana-mana.” kata suara itu, membuat Donghae mengintip darimana suara itu berasal. Matanya lalu menangkap seorang nenek dan seorang anak perempuan. Anak perempuan itu lalu menunggu sendirian, Donghae melihat dia mengamati sekelilingnya. Entah kenapa ada sesuatu pada diri anak itu yang membuat Donghae tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Tanpa sadar, Donghae sudah membawa kameranya dan mengambil begitu banyak gambar anak perempuan itu. Dia bahkan tidak ingat kapan tepatnya dia turun dari pohon dan berpindah ke semak-semak, tempat yang lebih baik untuk memotret objek yang baru didapatnya.

Senyum anak perempuan itu, Donghae merasa ada sesuatu di senyumnya. Sangat cerah seperti matahari, ini pertama kalinya Donghae begitu senang mengambil gambar seseorang. Biasanya Donghae lebih suka menjadikan benda mati sebagai objeknya, tetapi anak ini, dia memunculkan sebuah emosi yang tak pernah Donghae rasakan sebelumnya. Perasaan yang membuatnya ringan, bahagia mungkin? Entahlah, yang jelas Donghae tersenyum ketika memotretnya.

Entah sudah berapa banyak foto yang dia ambil, tetapi Donghae tidak bisa berhenti, pemandangan di hadapannya terlalu indah untuk dibiarkan berlalu tanpa mengabadikannya dalam sebuah gambar. Anak perempuan itu sedang mengamati burung-burung merpati ketika mereka mendengar suara tangisan. Awalnya Donghae berniat mengacuhkan saja suara tangisan itu, tapi sepertinya modelnya merasa terganggu.

Donghae melihat anak perempuan itu menghampiri anak laki-laki yang sedang menangis tersebut, dia melihat dan mendengar semuanya. Anak perempuan ini benar-benar menarik, dia bahkan membuat Donghae merasa malu. Dia yang seorang anak kecil saja mau menolong, aku malah berniat mengacuhkannya tadi! Bodoh kamu, Hae! batinnya gondok.

Donghae akhirnya memutuskan untuk menjadikan dirinya pangeran kesiangan saat itu. Dia lalu membeli es krim, entahlah harga dirinya merasa kalau dia harus melakukan sesuatu. Setelah membeli tiga es krim, Donghae lalu mendekati kedua anak itu. “Kalau mau, kalian boleh memakannya.” ucapnya sedikit gugup, sambil menyodorkan dua es krim yang dibelinya tadi kepada dua anak itu.

————————–

Sunye mendongakkan kepalanya. Ada seorang oppa tampan sedang tersenyum kepadanya. Dia diam sejenak memandangi oppa tampan itu, sebelum akhirnya tersenyum. “Oppa mianhae… kenapa kamu memberi kami es krim?” tanyanya kalem.

Donghae sedikit berkeringat mendengar pertanyaan Sunye, masa dia mengaku kalau dia memberikan es krim karena sejak tadi dia mengintai mereka? No no, nggak akan. “Ngg… tadi… aku dan temanku membelinya, eh tidak aku yang membelinya, rencananya akan kuberikan pada teman-temanku, tapi mereka tiba-tiba hilang! Ya, hilang! Err… sayang kan kalau es krim ini tersia-sia… hehehe… ya begitulah… gitu deh, yah…”

Sunye dan Sungmin memandangi Donghae, sakan menilai. Sunye sendiri merasa aneh, dia juga mengingat perkataan neneknya bahwa berbicara dengan orang asing itu berbahaya, apalagi menerima barang pemberian mereka, makanya Sunye ada sedikit perasaan curiga. “Ngg… oppa… tapi kami tidak bisa menerima barang dari orang yang tidak kami kenal…” kata Sunye, senyumnya menyiratkan permintaan maaf.

Donghae menghela napas, dia lupa kalau Sunye ini anak yang pintar. Tentu saja menerima barang pemberian orang asing itu berbahaya. “Kalau kalian curiga aku menarus sesuatu pada es krim ini, kalian boleh tanya penjualnya disana, aku benar-benar baru saja membelinya.” jelasnya, agak putus asa, kenapa saat dia ingin berbuat baik malah susah sekali. Sial.

Sunye terlihat berpikir sejenak. Tapi lalu dia melirik Sungmin di sebelahnya yang matanya sejak tadi terpaku pada es krim di tangan Donghae. Dia lalu tertawa kecil, “Baiklah Sungminnie, kamu mau es krim itu?” tanyanya, mencubit pipi Sungmin lembut. Sungmin mengangguk bersemangat, kelewat semangat malah soalnya kursi yang mereka duduki sampai bergoyang. Sunye dan Donghae tertawa melihat tingkahnya yang lucu. Akhirnya mereka bertiga pun memakan es krim bersama, bercerita ini dan itu. Lebih tepatnya Sungmin yang bercerita, Sunye dan Donghae hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali.

“Neh, Hae oppa,”

Donghae menatap Sunye, “Ya?”

“Kamu seorang fotografer, ya?” tanya Sunye, matanya menunjuk ke kamera yang sejak tadi tergantung di leher Donghae. Donghae mengangguk, “Ya, kenapa?”

Sunye menggeleng, “Tidak… aku merasa seorang fotografer itu sangat hebat. Mereka menciptakan keabadian, menangkap peristiwa-peristiwa yang cantik dan menjadikannya gambar yang indah. Membuat semua orang yang melihatnya bahagia.”

Ada perasaan yang hangat dalam diri Donghae mendengar kata-kata Sunye barusan. Dia sendiri tidak pernah merasa kalau pekerjaannya adalah pekerjaan yang begitu hebat. Donghae tersenyum, anak ini pastilah akan menjadi perempuan yang sangat luar biasa ketika dewasa nanti, mengingat masih kecil begini dia sudah begini hebat. Sial… seandainya aku 10 tahun lebih muda… batin Donghae asal.

“Sunye-ah!”

Sunye, Sungmin, dan Donghae menoleh ke asal suara. “Halmeoni!” Sunye memanggil, ketika melihat neneknya datang menghampiri. Donghae memberi salam kepada nenek Sunye, yang ternyata juga adalah wanita yang seluar biasa Sunye, begitu ramah, dan juga cantik. Sudah waktunya Sunye pulang ke rumahnya, Sungmin pun sudah pergi entah kemana.

“Sunyea-ah, ayo kita pulang. Donghae, kami duluan ya.”

Donghae tersenyum pada nenek Sunye dan membungkuk padanya. “Neh, hati-hati di jalan Halmeoni.” kata Donghae menimpali.

“Oppa, suatu saat kalau kita bertemu lagi tolong potret aku ya.” seru Sunye, tersenyum. Donghae juga tersenyum mendengarnya, itu undangan yang tak mungkin dia lewatkan. Sunye lalu mengisyaratkan kepada Donghae untuk mendekat, dia ingin membisikkan sesuatu kepada Donghae. “Lain kali jangan memotretku secara sembunyi-sembunyi lagi, oppa, aku malu, hihi.”

DEG!

“Sunye-ah!” teriak nenek Sunye yang sudah setengah jalan di depan mereka.

“Neeeeeeeeeeee~h, aku datang!” Sunye lalu mengecup pipi Donghae, melambai, lalu pergi meninggalkan Donghae. Sementara Donghae telah membatu sejak Sunye berbisik kepadanya tadi. Wajahnya menjadi panas. Donghae babo, kenapa kamu deg-degan karena kata-kata anak kecil, hah?!

“Aaaaaah sial aku ketahuan!!!” teriaknya frustasi, wajahnya merah padam dan malu setengah mati. Lain kali, semoga jika lain kali itu ada, dia tidak mempermalukan dirinya seperti ini lagi. Tapi dia akan memastikan kalau ‘lain kali’ itu pasti akan terjadi. Donghae pun tersenyum, benar-benar hari yang indah untuk dikenang.

————————–

Fanfic SunHae lagi! Hehehe. Kali ini nggak ada nuansa tragedinya, kan? hehehe. Yahhh gue sudah berusaha keras menahan diri untuk nggak membelokkan genre cerita ini menjadi angst, entahlah gue berhasil atau tidak, semoga iya. Makasih yang udah baca+ngomen. Love you♥mwah!

_Saeriminnie_

9 Komentar (+add yours?)

  1. aini_chul
    Jun 27, 2011 @ 04:57:15

    HAHAHA donghae pedofil.
    ahh so sweeeet. sangat manis dan gatau kenapa selalu romantis walau si sunye masih keciiiiil.
    good job sis 😀

    Balas

    • saeriminnie
      Jun 27, 2011 @ 05:13:24

      iya nih gila, dalam imajinasi gue mereka sudah sangat REAL sis. ahh semua ff selalu so sweet kalo mereka tokohnya deh…(>___<)
      thx aini_chul baby~ 😀

      Balas

  2. rawr
    Jun 27, 2011 @ 06:02:37

    Onnieee~ ini Rawr yg di fantastic~ inget kah? xD
    aaa di sini so sweet bangeet~~~~
    Donghae masa sampe malu ketahuan ama anak kecil~
    tapi tumben bukan angst? :p wkwk /taboked

    Balas

    • saeriminnie
      Jun 27, 2011 @ 10:50:58

      inget dong sayang~ 😀
      iya haha untunglah dia masih bisa merasa malu wkwk
      iya nih soalnya bosen gelap2an mulu, pengen ganti suasana~ #nggaknyambung
      many many kamsah ya cantik udah mampir+ngomen pula. love yah! mwah! /plakk

      Balas

  3. ananda
    Jun 28, 2011 @ 16:27:56

    boleh juga ke pasar bw sunye, siapa tw ja harganya dimurahin sama abangnya.
    waah sis,, cerita lo tambah so sweet. tingkatkan terus ke so sweet an cerita lo.

    Balas

  4. Trackback: Rare Butterfly [SunHae Fic] | Saeriminnie's World!!!
  5. chagyumin
    Nov 21, 2011 @ 08:34:18

    astopilloh. hae pedopil. ckckck.. XD

    sunye ganjen ih kecil2 udah berani nyium hae. xixixi…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: