Greatest Story Never Told [SunHae Fic]


Title : Greatest Story Never Told
Pairing : Donghae (SJ) & Sunye (WG)
Genre : AU, Romance, Angst
Rating : PG-15
Disclaimer : SMEnt, JYPEnt
Summary : Cintaku ini indah, dan tak akan kusesali, meski tak pernah terkatakan…
Warning : Kalo nggak suka pasangan ini jangan baca. Stop bashing if you’re smart people! Thanks.

———————————————–

[Donghae’s POV]

Aku hanyalah seorang anak kecil berusia 7 tahun ketika pertama kali bertemu dengannya. Hari itu, Umma mengajakku ke rumah salah seorang temannya. Awalnya aku tidak mau ikut dengan Umma, karena menurutku lebih baik aku menghabiskan waktu bermain bola bersama dengan Hyukkie, tetangga sebelah rumahku dan teman terbaikku, daripada bosan seharian melihat Umma asyik mengobrol dengan temannya. Tapi begitu Umma bilang dia akan menghadiahkanku game bola yang sudah lama kuinginkan, otak kecilku langsung setuju tanpa pikir panjang.

Selama perjalanan, bahkan sesampainya di rumah Tante Minkyung, teman Umma, yang ada dalam pikiranku hanyalah game bola yang dijanjikan Umma. Tapi, semua itu, semua pikiranku tentang game bola dambaanku yang memenuhi otakku, langsung hilang ketika Umma memanggilku. Dia menyuruhku memberi salam pada Tante Minkyung, juga anak perempuannya.

Saat itu, aku hanya memperkenalkan diriku seperti biasanya. Aku menyerukan namaku dan umurku dengan penuh semangat, membuat semua orang yang melihat tertawa karena tingkahku. Tapi aku tidak menyangka akan mendapat cubitan kecil di pipiku. Dan ketika aku mengangkat kepalaku, aku melihat wanita paling cantik yang pernah kulihat selama 7 tahun hidupku di dunia. Wanita paling cantik sedunia yang baru saja mencubit pipiku dan sedang tersenyum padaku itu, bernama Min Sunye.

“Hi Donghae-ah, bolehkah Noona memanggilmu Donghae-ah? Hihihi kamu benar-benar imut.” Itulah kalimat pertamanya untukku. Suaranya bahkan secantik wajahnya. Dan ya, dia adalah Noona bagiku, karena dia hidup tujuh tahun lebih lama dariku. Perbedaan usia yang tidak sedikit itu, pada saat itu, sama sekali tidak terlintas dalam otak kecilku. Yang ada dalam pikiranku yang berusia 7 tahun, hanyalah aku sangat ingin terus bertemu dengan Noona ini mulai saat itu. 

Aku yang berusia 7 tahun itu, sama sekali tidak mengerti maksud dari keinginan yang tumbuh dalam diriku. Kepolosan seorang anak kecil yang membuat orang dewasa iri. Betapa bahagia aku jika bisa terus hidup dalam kepolosan itu dan tak pernah mengenal hitam dalam kehidupan. Betapa ingin aku kembali menjadi aku yang berusia 7 tahun. Tetap putih, polos, bersih, baiknya semuanya tetap begitu. Baiknya aku tidak pernah menyadari perasaanku. Baiknya, hidup tak mengenal mati.

———————————————–

Min Sunye adalah seorang wanita yang sangat luar biasa. Dia cantik, sangat cantik. Meskipun banyak orang yang mengatakan banyak wanita lain yang jauh lebih cantik darinya, menurutku tetap dialah wanita yang paling cantik yang pernah kulihat. Dia adalah wanita yang sangat tegar, orang paling tabah yang pernah kukenal. Bertahun-tahun aku mengenalnya, saat-saat aku melihatnya menangis dan mengeluh bisa kuhitung dengan jari. 

Pertama kali aku melihatnya menangis adalah, beberapa bulan sejak pertemuan pertamaku dengannya. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat. Pada saat itu, yang kumengerti hanyalah Tante Minkyung dan Om Dongwoon pergi jauh, Umma menjelaskan kepadaku sambil terisak, kalau mereka tidak akan kembali lagi. 

Aku melihat Sunye-noona menangis sambil memeluk foto kedua orang tuanya. Aku mendekatinya dan memeluknya, karena setiap kali aku menangis Umma selalu memelukku dan aku akan berhenti menangis. Tapi Sunye-noona memelukku dan menangis semakin keras. Mungkinkah pelukanku kurang erat? Kupeluk dia semakin erat dengan tangan kecilku, berharap dia segera berhenti menangis. Aku tidak suka melihatnya menangis. Karena saat menangis, berarti kita sedang sedih kan? Aku ingin Sunye-noona selalu tersenyum, karena itu artinya dia merasa bahagia. 

Kedua kalinya aku melihatnya menangis, kebodohankulah yang menjadi alasannya. Usiaku 10 tahun saat itu. Hari itu aku sangat kesal pada Umma dan Appaku karena mereka tidak menepati janji mereka untuk membelikanku game terbaru yang mereka janjikan. Aku ingat sekali saat itu aku marah sekali karena aku sudah benar-benar menantikan game itu, tetapi mereka hanya bilang mereka lupa membelikannya. Aku pun berteriak, “Aku benci kalian! Hae benci Umma dan Appa! Hae tidak mau melihat kalian lagi!” lalu berlari mengunci diriku di dalam kamar.

Aku yang 10 tahun itu, benar-benar tidak menyadari betapa kata-kata yang kuteriakkan itu akan sangat menyakiti orang tuaku. Aku sebenarnya sangat mencintai mereka, hanya saja saat itu otakku yang dipenuhi dengan game sangat kecewa karena mereka melanggar janji. Noona yang hari itu memang sedang berkunjung ke rumahku langsung menghampiriku. 

Entah bagaimana perasaannya mendengar kata-kata egoisku saat itu. Aku begitu bodoh, tidak ingin melihat lagi orang tuaku, sedangkan dia yang begitu ingin melihat lagi tetapi tidak bisa. Saat itu, dia memelukku sambil menangis, “Kamu tidak boleh berkata seperti itu lagi pada Umma dan Appa-mu Hae-ah… kamu harus selalu mencintai mereka, karena kamu tidak akan tahu kapan mereka akan meninggalkanmu.”

Dia benar-benar menjalani hidupnya seakan-akan hidupnya akan berakhir besok. “Aku hidup untuk hari ini, karena aku tidak tahu apakah hari esok akan datang atau tidak. Jadi aku akan hidup dengan sungguh-sungguh setiap hari.” Itulah yang selalu dikatakannya padaku. 

———————————————–

“Lee Donghae!”

Aku menoleh, menatap Saerim, juniorku sekaligus manager klub sepak bola yang kuikuti. “Apa?” tanyaku heran, ekspresi wajahnya kelihatan tidak begitu senang ketika melihatku.

Saerim justru mendengus mendengar pertanyaanku. “Kau ini! Sudah berapa kali kau bolos latihan, hah?! Pelatih Shin terus-menerus menanyakan tentangmu, tahu! Aku dan Eunhyuk-oppa yang jadi korban, kami bingung harus jawab apa padanya!” serunya kesal.

Aku hanya menertawakannya, dan menggeleng, membuat matanya semakin melotot menatapku. “Jangan hanya tertawa! Beri aku alasan yang jelas kenapa kau terus-menerus bolos!” seru Saerim lagi, kali ini sambil memukul pundakku.

Aku berhenti tertawa, kutatap Saerim dalam-dalam sampai raut wajahnya berubah. “Aku bolos latihan, karena…”

Saerim menatapku penasaran, dalam hati aku ingin tertawa melihat ekspresinya, tapi tentu saja kutahan mengingat ini hukuman baginya yang selalu ingin tahu urusan orang lain. “Karena..?” tanyanya tidak sabar.

“Rahasia~” Setelah membisikkan kata itu, aku langsung melesat berlari meninggalkannya. Aku hanya tertawa mendengar dia berteriak-teriak memanggil namaku, bahkan mengancamku. 

Aku terus berlari sampai ke kelasku. Tidak ada orang disana, tentu saja mengingat sekarang sudah jam pulang sekolah. Hanya ada beberapa orang yang masih ada di sekitar sekolah karena mereka harus mengikuti kegiatan klub. Aku lalu mengambil tasku, dan berjalan keluar kelas. Tetapi ketika aku akan menutup pintu kelasku, handphone-ku berdering. Seulas senyum tanpa sadar terbentuk di bibirku ketika aku melihat nama penelepon di layar handphone-ku.

“Noona!” seruku bersemangat. 

Aku tersenyum menatap layar handphone-ku. Aku tidak akan pernah bosan memandangi wajah cantik ini sampai kapanpun. 

“Hae-ah, kamu sudah makan?”

Ahhh… aku juga tidak akan pernah bosan mendengar suara yang indah ini!

“Belum Noona, kamu bagaimana?”

Sunye Noona tersenyum dan menggeleng. “Aku juga belum, bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama?”

Aku tentu saja mengangguk dengan bersemangat tanpa pikir panjang. “Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat biasa ya.” Kata Sunye Noona lagi, aku pun mengangguk dan tersenyum kepadanya. Dan video call kami pun terputus.

Aku pun segera meninggalkan sekolah, benar-benar tidak sabar menanti makan malam kami nanti.

———————————————–

“Lho Hae, kamu mau kemana? Beberapa hari ini kamu tidak pernah makan di rumah.”

Aku tersenyum pada Umma-ku lalu menggeleng, “Tidak Umma, aku akan makan malam dengan Sunye Noona.” Kataku, lalu pergi setelah selesai mengikat sepatu. Aku tidak sempat melihat tatapan iba dari Umma-ku.

———————————————–

“Selamat dat- Ah! Anda datang lagi malam ini.”

Aku tersenyum pada pelayan café tempat aku dan Sunye Noona janji bertemu. Beberapa pelayan disini sudah mengenal kami karena kami sangat sering makan disini, karena makanan-makanan disini sangat enak! Kalian harus mencobanya lain kali, namanya Baptol.

“Anda sendirian? Atau sedang menunggu seseorang?” Tanya pelayan itu padaku setelah menunjukkan kursi yang kosong.

“Aku menunggu seseorang.” Jawabku kalem. Pelayan itu lalu pergi setelah aku memintanya menyediakan jus stroberi saja sambil menunggu Sunye Noona datang, sisanya akan kupesan nanti.

[End of Donghae’s POV]

———————————————–
[3rd Person POV]

“Kemana Donghae?”

“Dia… lagi-lagi pergi makan malam dengan Sunye…”

“Lagi?!”

“Aku mengerti perasaannya, tapi aku tidak ingin dia terus hidup dalam imajinasinya seperti ini… Aku takut anak kita jadi… ja-jadi… gila…”

———————————————–

“Hey, cowok imut itu datang lagi, ya?”

“Iya, lagi-lagi dia bilang dia menunggu seseorang.”

“Selalu saja begitu, padahal setiap hari dia hanya duduk sendirian disitu sampai café tutup.”

“Apa kamu tahu kalau wanita yang selalu bersamanya itu meninggal karena kecelakaan?”

“HAH?! SERIUS?!”

“Iya, sekitar seminggu yang lalu, dia tertabrak truk. Sepertinya sih dia sedang menuju kesini karena lokasi kecelakaannya tidak jauh dari sini. Kamu juga ingat kan, malam pertama cowok itu mulai menunggu sampai malam.”

“Berarti selama ini, orang yang ditunggunya itu…”

“Mungkin saja wanita itu.”

———————————————–

Donghae menatap jam di tangannya dengan tidak sabar. Sekarang sudah jam setengah sembilan malam, waktu makan malam sudah lama berlalu, tetapi Sunye Noona belum juga datang.

Dia membuka lagi handphone-nya, mengecek video call terakhir yang dia terima. Tanggalnya menunjukkan waktu seminggu yang lalu.

“Hae-ah, kamu sudah makan?” 

“Aku menunggumu, Noona…”

“Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama?”

“Iya, Noona…”

“Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat biasa ya.”

“Noona… aku selalu menunggumu disini, tetapi kenapa kamu tidak pernah datang? Kamu tidak mulai menjadi seorang pembohong, kan?”

“Hae-ah, kamu sudah makan?” 

“Noona… Sunye Noona…”

“Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama?”

“. . . . . . .”

“Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat biasa ya.”

“Hae-ah, kamu sudah makan?” 

 “Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama?”

“Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat biasa ya.”

“Hae-ah, kamu sudah makan?” 

 “Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama?”

“Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat biasa ya.”

“Hae-ah, kamu sudah makan?” 

 “Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama?”

“Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat biasa ya.”

“Hae-ah, kamu sudah makan?” 

 “Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama?”

“Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tempat biasa ya.”

Donghae menangis. Untuk pertama kalinya sejak Sunye meninggalkannya, air matanya sudah tidak tertahankan lagi. 

Noona… kamu bahkan belum tahu kalau aku mencintaimu, tapi kamu sudah pergi. Noona, aku mencintaimu… aku tidak menyesali cinta ini, karena hidupku menjadi begitu indah ditemani perasaan cintaku padamu ini setiap harinya. Karena itu, biarkan cintaku ini menjadi kisah terindah, meski tak akan pernah terkatakan…

_END_

———————————————–

Yak, ini dia another sunhae fanfic! Dan lagi-lagi genre favorit guw, ANGST saudara-sadara! HAHAHAHAHAHA (sumpah gue seneng banget bikin cerita kayak gini). Pokoknya thanks yaaaaaw yang udah baca, ngomen, THANKS! MANY MANY KAMSAH!

_Saeriminnie_ 

9 Komentar (+add yours?)

  1. Aini Bestari
    Jun 18, 2011 @ 13:41:49

    siiiiiiis sedih siiiis. i dunno what to say. i like this sooooo much :”(

    Balas

  2. puchaabyzone
    Jun 18, 2011 @ 16:19:01

    안여하세요….!!!!!

    huaaaaaa author…keren..!!!!
    yeay another sunhae story…*jiwa shipper ㅋㅋㅋㅋ

    ya ampun bener2 ngk nyangka kl endingnya kyk gini…waktu awal baca kirain ceritanya kisah cinta dongsaeng – noona yg happy ending….ternyata ceritanya sad ending huaaaaaaaa*nangis di pinggir jalan brg yeppa #sroooottt..ngelap ingus pk baju author *dijitak author hohoho

    ayo2 ditunggu karya2 sunhae yg lain…
    와이딩 author
    감사함니다 ^^

    Balas

  3. epynation
    Jul 28, 2011 @ 05:38:36

    Seandainya airmata bisa untuk terapi kejiwaan sudah q tampung air mataq sejak q buka wpmu ini saerim ah…..cinta adalah anugrah yg datang tidak mengenal silslah,umur dsb…. Faighting

    Balas

  4. Heechan
    Des 27, 2011 @ 07:30:57

    tok..tok..
    adakah orang?
    izin masuk dan jalan” d blog ini yah .

    Balas

  5. Risha
    Mei 14, 2012 @ 06:00:52

    andwaeeeeeeeeeeeeeee….
    hae miris amat 😦

    Balas

  6. sweet haehyuk
    Jul 12, 2012 @ 13:59:54

    author, knp ff nya berakhir dgn meninggalnya sunye? SUNYE EONNI!! Gak rela tolong persatukan mereka T.T tapi gk apa deh ff nya keren kok tp nyesek. Keep writing ya 😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: