The Best Gift Ever [SunHae Fic]


Title : The Best Gift Ever

Pairing : Donghae (son) & Sunye (mother)

Genre : Family-drama

Rating : G

Summary : Memilikimu adalah hadiah terbaik yang pernah kuterima selama hidupku.

A/N : Yak, selamat datang di fanfic sunhae gue yang lain! ^o^ no more words and enjoy! Oh iya, fanfic ini diceritakan dari sudut pandang Sunye.

Warning: Kalo nggak suka pasangan satu ini jangan baca karena gue nggak suka ada yang ngebash disini! thanks.

– – – – –

(inilah dia Donghae kecil kita! Ini bonus sekiranya pada nggak bisa ngebayangin seperti apa Donghae waktu masih kecil! Imut banget kan? XD)

“Umma! Umma!”

Sunye, yang sedang berada di ruang kerja kecil di rumahnya, buru-buru keluar ketika mendengar suara anak laki-lakinya memanggil-manggil dia. Apa lagi kali ini? batinnya.

Dan betapa kaget dia begitu sampai di ruang tamu, atau ruangan yang seingatnya masih ruang tamu beberapa jam lalu, sekarang terlihat seperti kapal pecah.

“Donghae…”

Anak laki-laki yang sedang duduk di pojok ruangan itu menoleh kepadanya, dan tersenyum begitu melihat Umma-nya. “Umma, lihat! Hae sedang melukis alam semesta! Hae adalah Picasso!”

Sunye menundukkan kepalanya dan menghela napas dengan lemas. Dia menggaruk kepalanya frustasi. Matanya menatap ke tiap sudut ruang tamu (atau ruangan tadinya ruang tamu) yang sekarang dindingnya sudah dipenuhi gambar-gambar tipikal anak kecil yang berwarna-warni.

Vas bunga mahal yang dibelinya di Paris ketika dinas disana pun sudah menjadi sampah, yang diyakininya jatuh saat anaknya sedang bereksplorasi dengan lukisan semesta-nya.

Sunye mengangkat kepalanya ketika merasakan sentuhan ringan di kakinya.

“Umma… benci dengan Hae?”

Ketika melihat sepasang mata kecil itu menatapnya dengan tatapan yang begitu rapuh, hilang sudah semua rasa kesal dan pusingnya. Sunye tersenyum dan menggeleng, lalu berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan Donghae.

“Umma… menggeleng… jadi tidak benci dengan Hae, begitu..?”

Sunye lalu menyentuh kedua pipi anak laki-laki satu-satunya itu dengan kedua tangannya, mendekatkan wajah mereka sampai dahi mereka bersentuhan. “Dengar, Hae…”

Donghae menatap Ummanya itu dengan tatapan khawatir. Dua mata mungilnya tidak lagi menampakkan sinar seperti saat dia memberitahu Sunye dia sedang melukis alam semesta. Mata itu kini menunjukkan kegelisahan, dan hal itu adalah hal terakhir yang ingin Sunye lihat terpancar dari mata anaknya.

“Umma tidak akan pernah benci dengan, Hae, mengerti?” jelas Sunye, sambil bergerak memeluk Donghae, yang mengangguk lalu ikut merangkulnya dengan tangan kecilnya. “Tapi kalau Hae terus nakal seperti ini, Umma bisa pusing… Hae mau Umma pusing?”

“Hae tidak mau Umma pusing! Pusing itu gawat! Hae hanya melukis, Umma… melukis membuat Hae nakal? Kalau Hae melukis membuat Umma pusing?” seru Donghae panjang lebar, masih memeluk Sunye.

Sunye lalu menggendong Donghae dan berjalan ke sofa, lalu duduk dengan Donghae di pangkuannya, menatapnya khawatir. Sunye tertawa kecil melihat ekspresi wajah anaknya itu, bagaimana bisa dia masih terlihat begini menggemaskan ketika sedang gelisah, batinnya. Oh mungkin dia memang orang tua yang terlalu mencintai anaknya.

“Umma, Hae tidak mengerti…” gumam Donghae, menarik kemeja Sunye untuk menarik perhatiannya, Sunye pun berhenti tertawa.

“Begini, Hae… bukan karena Hae melukis Umma jadi pusing, melukis tidak membuat Hae jadi nakal karena itu hal yang baik. Mengerti?”

Melihat Donghae mengangguk, Sunye pun melanjutkan. “Tapi yang tidak boleh Hae lakukan adalah membuat rumah kita berantakan seperti ini, karena itu berarti Hae nakal. Kalau Hae nakal, Umma akan jadi pusing, itu gawat kan?” kata Sunye lagi, kali ini Donghae mengangguk lebih semangat dari sebelumnya. Tapi ekspresinya bertambah khawatir.

“Kenapa, sayang?” tanya Sunye penasaran, mencium kening Donghae yang masih berwajah tegang.

Donghae mempererat pegangannya pada kemeja Sunye sambil menatapnya dengan tatapan-anak-anjing-yang-dibuang + bibir cemberut andalannya. “Umma…”

“Ya?”

“Hae minta maaf karena membuat Umma pusing… tapi Hae benar-benar tidak tahu kalau apa yang Hae lakukan akan membuat Hae pusing! Sungguh! Hae ingin melukis karena tadi di sekolah Saerim-sonsaengnim mengajari Hae tentang melukis dan dia bilang Picasso itu pelukis terhebat di dunia! Karena itu, Umma… karena itu Hae ingin menjadi Picasso! Melukis alam semesta! Karena Hae yakin seyakin-yakinnya kalau Umma akan senang jika Hae jadi yang terhebat di dunia! Tapi Hae tidak menyangka Umma akan pusing… Hae ti-“

Sunye mencium bibir mungil Donghae, tidak tahan lagi mendengar kicauannya yang sepertinya tak akan pernah berakhir. “Sekarang sudah waktunya Hae tidur siang, kan? Cepat ke kamar.”

“Tapi Hae ingin membaguskan rumah kita lagi, Umma… tadi Umma bilang Hae membuat rumah kita berantakan…”

“Tidak papa, biar Umma yang membaguskan rumah kita. Sekarang Hae harus tidur, kalau tidak tidur nanti akan ada alien yang menculikmu!”

Donghae spontan langsung melompat turun dari pangkuan Ummanya. “Hae tidak mau diculik alieeeeeeeeeeeeen! Hae akan tidur sekarang Umma!”

Sunye terkikik geli melihat Donghae yang berlari secepat kilat menuju kamarnya. Tapi senyum di wajahnya langsung hilang ketika dia melihat lagi keadaan ruang tamunya. Dia lalu menghela napas, entah berapa lagi biaya yang harus dia keluarkan untuk memperbaiki semua kerusakan ini.

– – – – –

“Umma! Umma!”

Sunye yang sedang sibuk memilih sayuran apa yang akan dimasaknya untuk makan malam langsung menoleh ke asal suara.  Matanya melebar ketika dia melihat Donghae berdiri di depannya, di tangannya ada sebungkus chiki. Firasatnya buruk menyadari bagian atas chiki tersebut terbuka dan beberapa bubuk cokelat terlihat menempel di sekitar mulut Donghae.

Dan benar saja, tak lama kemudian menejer pasar swalayan tersebut memelototi mereka begitu mengetahu apa yang sudah dilakukan Donghae. Sunye harus meminta maaf dan memohon berkali-kali untuk diijinkan membeli barang-barang yang sudah dipilihnya. Tapi setelah hari itu, mereka dilang kembali ke pasar swalayan tersebut. Dan pasar swalayan tersebut sudah yang ketiga yang mem-black list kedatangan mereka. Sunye rasa lain kali lebih baik dia pergi belanja sendiri atau mau tidak mau dia harus belanja di kota sebelah.

– – – – –

“Wah lucu sekali… siapa namamu anak pintar?”

“Hae, semua panggil aku, Hae!”

“Berapa usiamu, Hae?”

“Usia Hae 5 tahuuun!”

Sunye tersenyum melihat pemandangan di depannya. Betapa bangga dia memiliki anak seimut dan sepintar Donghae. Jujur dia sangat menikmati saat-saat dimana orang lain memuji Donghae, dan betapa beruntung dirinya memiliki anak seperti Donghae.

“Tentu saja Hae makan dengan baik! Hae selalu menghabiskan semua yang ada diatas meja!”

“Diatas meja?”

Donghae mengangguk bersemangat. Tapi suasana riang yang tadi menghiasi percakapan antara Donghae dan teman kerja Sunye kini hilang, berganti dengan tegang.

“Semua yang ada diatas meja Hae tidak akan Hae sisakan, kecuali yang terlalu besar untuk mulut Hae!”

Sunye kaku seketika. Kata-katanya barusan menjelaskan kemana perginya semua hiasan meja dan peralatan makannya yang selalu hilang.

– – – – –

“Umma! Umma!”

Sunye langsung menghentikan pekerjaannya ketika mendengar suara Donghae memanggilnya. Mereka sekarang sedang berada di sebuah cafe yang letaknya tidak begitu jauh dengan rumah mereka. Sunye perlu mengirim hasil pekerjaannya kepada atasannya tetapi internet di rumahnya belum disambung karena dia belum membayar tagihan untuk bulan ini (kalau kalian lupa, uang yang seharusnya dia pakai untuk membayar tagihan itu terpaksa dipakai untuk membayar kerusakan yang ditimbulkan oleh ‘Picasso’ Donghae). Jadilah dia membawa Donghae kesini untuk meminjam fasilitas wi-fi yang disediakan di cafe ini.

Sunye meminta Donghae untuk menunggu pekerjaannya selesai sambil memakan es krim. Tapi ketika tiga gelas es krim dan satu strawberry milkshake yang dipesannya habis, Donghae merengek kepadanya agar diijinkan bermain di taman kecil di depan cafe, yang akhirnya dituruti oleh Sunye. Pertama karena dia tidak tahan dengan tatapan-anak-anjing-yang-dibuang dari Donghae, kedua karena memang bekerja tanpa ada Donghae yang berisik di sebelahnya jauh lebih baik.

Tapi sekarang Sunye benar-benar menyesali keputusannya membiarkan Donghae bermain sendirian tanpa pengawasannya. Sekarang di hadapannya ada Donghae dan seorang anak laki-laki yang tidak dikenalnya. Yang membuatnya khawatir adalah, anak laki-laki tidak dikenal itu sekarang sedang menangis.

Tapi belum sempat Sunye menghampiri mereka, seorang wanita paruh baya datang dan menampar pipi Donghae. “Dasar kamu anak nakal! Berani sekali membuat anakku menangis! Didikan seperti apa sih yang diberikan orang tuamu?!”

Saat itu, ketika dia menyaksikan anaknya dilukai dan dilontarkan kata-kata kasar seperti itu, Sunye merasa dirinya sudah mati. Bahkan rasa sakit pun tak lagi terasa.

Sambil menangis dia berjalan menghampiri Donghae dengan langkah gemetar. Entah berapa banyak dia mengucapkan kata maaf dan berapa lama sudah dia menangis. Dia terus saja meminta maaf dan meminta maaf, sambil menangis. Bahkan sampai Ibu dan anak itu pergi dia terus menerus menangis dan meminta maaf.

Sementara Donghae hanya diam dalam pelukannya. Tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak bergerak sedikitpun, dia bahkan tidak meneteskan air mata sama sekali. Sesampainya mereka di rumah, Donghae langsung berlari ke kamarnya, mengacuhkan kata-kata Sunye yang menyuruhnya mencuci kaki dan mukanya terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar.

Sunye pun langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya begitu sampai di kamarnya. Kejadian hari ini menguras seluruh tenaganya, juga perasaannya. Dan tanpa dia sadari, lagi-lagi air matanya mengalir.

“Hae-ah… kurasa aku sudah tidak kuat membesarkan anak kita seorang diri…” bisiknya lirih.

Sunye mengabil handphone-nya, lalu menatapnya, dan tangisannya mengalir semakin deras melihat gambar yang menjadi wallpaper handphone-nya.

Di gambar itu, ada dia dan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya. Ada dia dan kedua Donghae-nya. Ya, nama suaminya adalah Donghae. Donghae yang memaksa untuk menamakan anak mereka seperti namanya, “Supaya semua orang tahu betapa kamu sangat memujaku.” itulah yang selalu dikatakannya. Tapi Sunye tahu betul, Donghae pasti merasa kalau dia tidak bisa selamanya bersama Sunye, karena 5 bulan setelah kelahiran anak mereka, Donghae meninggal dalam kecelakaan mobil. “Karena itu kamu menamakan anak kita Donghae kan, Hae-ah?” seru Sunye lemah, air mata masih mengalir deras di pipinya.

“Hae-ah… aku tidak percaya diri… aku tidak yakin bisa membuat Donghae kecil kita tumbuh menjadi lelaki sehebat dirimu jika aku sendirian…

“Aku tidak punya kemampuan untuk melindungi anak kita, Hae-ah… maafkan aku…”

Malam itu, Sunye terus menangis sampai akhirnya kelelahan dan tertidur. Tapi entah kenapa dia terbangun di tengah malam. Setelah minum dan mengecek semua pintu sudah terkunci dengan benar, dia lalu berjalan menuju kamar Donghae.

Sunye sedikit terkejut melihat Donghae tertidur di lantai dengan kertas dan crayon bertebaran di sekitarnya. Dia pun mengangkat Donghae dan membaringkannya di atas ranjang bergambar ikannya dengan hati-hati. Setelah menyelimuti Donghae, Sunye lalu membereskan kertas dan crayon yang berserakan di lantai. Tetapi tulisan di salah satu kertas yang tertangkap oleh matanya menghentikan pekerjaannya.

Hari ini Hae tidak menjadi anak baik… Umma banyak menangis karena Hae…  Ada orang aneh yang memarahi Hae dan memukul pipi Hae, Hae tidak mengerti… Dia bilang Hae membuat anaknya menangis? Siapa yang Hae buat menangis? Hae hanya menolong anak itu karena dia diganggu oleh anak-anak nakal… Tapi akhirnya anak-anak nakal itu pergi setelah Hae memarahi mereka…  Tapi kenapa Umma meminta maaf sambil menangis? Banyak hal yang tidak Hae mengerti… 

Umma… maaf… padahal Hae sudah berjanji akan jadi anak baik, tapi tetap saja Hae membuat Umma menangis… Hae mendengar Umma menangis sambil menyebut-nyebut Appa juga tadi… Hae tidak tahu Appa tu orangnya seperti apa tapi, kalau Appa begitu hebat, Hae akan menjadi seperti Appa! Umma jangan khawatir, Hae pasti tumbuh menjadi laki-laki sehebat Appa…

Sunye memegang kertas yang kini sudah sedikit basah karena air matanya itu dengan gemetar. Dia menatap Donghae yang sedang tertidur pulas diatas kasur dan tersenyum dalam tidurnya, dia tidak menyangka kalau anaknya akan berpikir seperti ini. Sunye tersenyum di tengah isakannya. Hae-ah… mungkin aku salah… 

Sunye lalu mengecup kening Donghae, dan membisikkan kata ‘Aku mencintaimu, Hae’ berkali-kali sebelum beranjak untuk mematikan lampu dan keluar. Tapi ketika dia akan keluar dan menutup pintu, suara kecil yang amat sangat disayangnya memanggilnya, “Umma… apa itu Umma?” tanya Donghae.

Sunye pun berjalan mendekati Donghae dan duduk di pinggir tempat tidur anaknya itu. “Kenapa sayang?”

“Umma… tidak menangis lagi? Tidak gawat lagi…?”

Sunye menggeleng dalam kegelapan, “Tidak… sekarang Hae tidur ya, besok pagi kamu harus sekolah.”

Donghae menarik tangan Sunye ringan, “Temani Hae, Umma… Hae ingin tidur bersama, Umma…” serunya pelan. Sunye tersenyum, meskipun dia tahu Donghae tidak akan bisa melihatnya. “Baiklah kalau begitu, ayo tidur.”

Donghae kembali tidur segera setelah Sunye membaringkan tubuhnya dan membawa Donghae ke dalam pelukannya. Melihat Donghae tersenyum begitu damai dalam tidurnya seperti ini, Sunye merasa kalau dia berhasil membesarkan Donghae menjadi lelaki yang hebat, sehebat ayahnya.

_FIN_

– – – – –

Well, gue ngerjain ff ini selama 5 jam… capek… ide ceritanya gue dapet dari sebuah lagu, gue nggak tahu siapa penyanyinya, tapi judulnya ‘Soft’. Semoga ff gue kali ini memuaskan ya. Dan makasih banyak buat yang udah nyempetin buat baca, apalagi ngomen hehe.

_Saeriminnie_

10 Komentar (+add yours?)

  1. aini_chul
    Mei 28, 2011 @ 15:53:24

    GOD, another sad ff. This is really SUNYE and DONGHAE:(
    Perfect. Can’t even imagine!
    Ahhh GO SUNHAE!!!! And GO SAERIMMINIE 😀

    Balas

  2. ananda
    Jun 06, 2011 @ 14:58:35

    wow.. ff yg bagus..

    Balas

  3. puchaaby
    Jun 12, 2011 @ 05:07:16

    annyeongggg author,,,
    salam kenal ^^

    wuaaaaaaaaaaa ceritanya daebak..!!!!
    bener2 keren banget,,,seribu jempol gajah buat author..!!!
    terharu dan sedih baca ceritanya..tapi saya suka 😀 😀

    gud job author

    kamsahamnida
    _bow_

    Balas

    • saeriminnie
      Jun 12, 2011 @ 16:59:27

      /bow
      annyeong salam kenal juga~
      duh seribu? jempol gajah pula? ngga mau ah! xD
      hehe thx ya, duh jgn berlebihan gitu ah, jadi melayang nih xD
      makasih makasiiiiiiiiih banyak udah baca, memuji, dan meninggalkan komentar! jeongmal many many kamsah! ^^

      Balas

  4. kkangrii 강영리♥
    Jul 11, 2011 @ 04:40:19

    Hello 🙂 remember me? Wah kmu gak sms ke aku kalo join author di S3FFindo ya? Untung aja aku check blog 😀 FFmu udah kubaca… Oke… I accept you 😀

    Balas

  5. epynation
    Jul 28, 2011 @ 16:11:50

    Yah saerim seongsangnim anda sukses membuat ane menangis pilu tengah mlam.. Terharu 😦

    Balas

  6. Sunlight
    Okt 15, 2011 @ 11:25:29

    0m0na..s0 sad st0ry..why did y0u 0wez make sad ending..i can’t imagine if i’m at sun place..it s0 sad..hae,why y0u g0ne..T.T

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: